Rabu, 14 Januari 2015

MAHASISWA: KADER, KONFLIK, DAN KEKUASAAN



Sungguh beruntung malam ini, ketika saya duduk bersila sambil mendengarkan gurauan segar yang membangkitkan selera untuk menulis. Seorang dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Alwi Rachman memberikan sedikit pandangannya mengenai dunia kemahasiswaan. Wajahnya yang cukup bersahabat dengan santainya menghisap rokok sambil mengeluarkan pernyataan-pernyataan kritis, namun sederhana dan mudah dipahami. Perbincangan itu membuatku tersenyum-senyum sambil membayangkan bahwa ucapannya sungguh masuk akal (menurutku). Awalnya, pembicaraan itu kaku dan satu arah (karena saya yang memulai), namun ketika dia mulai bercakap, duduk tegap menjadi duduk santai sembari memerhatikan arah pembicaraan. Saya tidak men’dewa’kan beliau, hanya saja saya kagum dengan pemikiran beliau yang sepertinya pas dengan apa yang saya pikirkan, walau hanya sedikit yang benar-benar saya pikirkan (wajar saja, pengalaman saya masih sangat sedikit).
Inti pada tulisan kali ini adalah konflik dan kekuasaan. Tentunya tulisan ini mengarah ke dunia kemahasiswaan. Dua inti tulisan ini terkadang sangat berhubungan, baik secara konsep maupun teknis, karena terkadang, konflik terjadi ketika ada dominasi (kekuasaan). Oh iya, tulisan ini juga merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya, ‘Mahasiswa: Refleksi Awal Tahun 2015’ yang mengangkat refleksi mahasiswa dan gerakannya sebagai isu.

Senior dan Junior
‘Senior tidak pernah salah’, merupakan kalimat yang selalu didengungkan berkali-kali ketika seseorang baru saja masuk ke dalam salah satu perguruan tinggi sebagai mahasiswa baru (maba), walaupun tidak semua kampus menerapkan hal itu. Bagaikan firman tuhan, semua maba tersebut harus patuh terhadap kalimat tersebut. Terkadang kalimat itu disalah artikan dan menjadi salah satu hal yang harus ada dalam doktrin kemahasiswaan.
Sebenarnya, itulah virus yang pertama kali menjangkit kita dalam dunia kelembagaan mahasiswa maupun organisasi-organisasi luar kampus yang menjunjung tinggi nilai ke’senioritas’an. Tak usah kita berpaling ke kiri dan ke kanan, sebagai mahasiswa kita pasti sadar bahwa ketika penerimaan mahasiswa baru, sebagian dari kita mencoba memperlihatkan ‘kekuasaan’ kita dihadapan maba yang polos. Bak superhero, kita selalu ada disetiap kegiatan yang berhubungan dengan maba, berdiri atau duduk di karpet sambil membusungkan dada sementara maba hanya duduk di lantai atau tanah, selalu memberikan arahan mengenai apa yang harus dan tidak harus dilakukan (walaupun hal itu tidak penting), dan memberikan pengaruh dengan mengatakan kepada maba bahwa “saya yang paling hebat di sini! Kalau ada apa-apa, sebut saja namaku”. Setelah proses itu selesai, terciptalah kasta ‘senior’ dan ‘junior’. Sebagian besar lembaga mahasiswa menerapkan prinsip bahwa senior dapat bersantai, sedang junior membuatkan kopi untuk seniornya. Walaupun terdengar kasar, namun itulah kenyataan. Hal tersebut menjadi racun untuk generasi selanjutnya dan juga sebagai sisi negatif dari lembaga mahasiswa.
Tidak mengherankan, ketika kuantitas penggiat kelembagaan sangat minim. Tetapi ada saja yang mengatakan bahwa “hukum rimba yang berlaku di sini! Siapa yang tidak mampu, tidak usah ikut”, sebenarnya adalah pembelaan terhadap kesalahan dan keteledoran sistem pengaderan yang tidak bersandar pada prinsip dan esensi lembaga, sehingga sebagian dari kader melarikan diri. Sesungguhnya, bukannya mereka tidak mampu, hanya saja mereka memiliki keahlian dan kesukaan dibidang lain. Selain itu, model pengaderannya juga memperrhitungkan kondisi kader, variatif, dan kreatif, bukannya mengambil keputusan sepihak (umumnya kaku dan monoton) dengan mengatasnamakan kepentingan lembaga. Memang kita melatih mental, namun perlu juga mengetahui maksud dan tujuan hal tersebut dilakukan. Jangan sampai, kita adalah generasi ikut-ikutan atau copy-paste. Kualitas memang perlu, namun jika budaya itu terus menerus diturunkan, maka sungguh umur’nya’ akan pendek. Bisa anda bayangkan, apa yang akan terjadi dengan lembaga kemahasiswaan 5-10 tahun ke depan, jika budaya ini diturunkan tanpa proses yang kritis?

Efek ‘Firman Tuhan’
Doktrin tentang kasta dan kesetiaan atau loyalitas terhadap organisasi telah mendarah-daging dan menjadi ‘kitab suci’ bagi kehidupan lembaga kemahasiswaan. Doktrin-doktrin ini diterima-terima saja oleh junior karena dikekang oleh perasaan tertekan dan takut salah (lebih tepatnya mengkritik) yang ujung-ujungnya adalah kontak fisik dengan senior (bukan seks!). Rupanya kritik dapat menjadi momok bagi sebagian besar senior yang tidak mau mengevaluasi dirinya sendiri. Pertanyaan yang paling membuat saya tertegun adalah “apa warisanmu?” sungguh membuat saya berpikir keras. Pertanyaan yang sulit dan sampai saat ini, saya belum bisa menjawabnya. Sangat wajar bila junior saya mengkritik hal tersebut karena saya merasa belum memberikan apa-apa buat mereka.
Salah satu doktrin yang kuat dalam pengaderan adalah ‘solid’ atau kebersamaan. Salah satu pepatah yang selalu dilantunkan oleh senior adalah “sama-sama susah, sama-sama menderita, kalian harus tetap bersama-sama”. Rupanya, sebagian dari junior-junior mereka menyalahartikan hal tersebut. Saking solid-nya mereka, sampai-sampai hubungan eksternal mereka menemui jalan buntu. Mereka hanya berkutat pada lingkungan sosial mereka sendiri atau kelompok ‘cacat sosial’. Tidak jauh dengan anak SMA yang selalu membangga-banggakan sekolahnya sendiri. Ketika generasi baru tersebut menciptakan lingkaran pemisah antara lembaganya dengan dunia luar, maka timbulah konflik turun-temurun yang berkutat pada lingkungan kelembagaan mereka. Contoh sederhana adalah program kerja kelembagaan yang selalu sama setiap tahunnya. Hal itu terjadi ketika koneksi dengan dunia luar terputus. Bergaul dengan sesama teman satu lembaga dan tidak mau bergaul dengan lembaga lain menyebabkan siklus konflik internal lembaga.
Banyak diantara kita menyadari bahwa jika relasi  pertemanan di lingkungan kelembagaan hanya dibatasi oleh kepentingan, hal itu sudah pasti. Namun kita terlalu membuat ruang relasi itu semakin sempit. Ada sebuah pengelompokkan dalam benak seorang junior mengenai kemampuan seorang seniornya. Ketika pertama kali senior memperlihatkan dirinya, hal itu terekam, begitupun kemampuannya. Hal tersebut menjadi ‘iman’ bagi si junior, dan ketika senior yang mereka kagumi memberinya arahan/doktrin, itu telah menjadi ‘firman tuhan’. Contohnya, pemateri dalam sebuah kegiatan tahunan selalu saja sama. Jika si A merupakan orang yang dipercaya dan senior yang sangat ahli dalam suatu materi, maka selalunya si A ditunjuk sebagai pemateri hingga ia lulus kuliah. Tidak ada generasi lain yang membawakan materi tersebut selama ia masih menjabat sebagai mahasiswa. Memang kapabilitas seseorang penting, namun kapabilitas itu bukan hanya dimiliki oleh seorang saja. Kita bisa mempercayakan materi tersebut pada si B, si C, atau si D, selama masih bisa membawakan materi tersebut. Toh, kita juga yang bisa menilai dan merasakan hasilnya. Menurut saya, itulah yang disebut sebagai efek ‘firman tuhan’.

Setan Bisa Saja Benar
Kebobrokan generasi penerus bukan sepenuhnya kesalahan generasi pendahulu. Kita, generasi sekaranglah yang dapat merubah hal tersebut. Saya akui bahwa senior-senior saya sangat hebat, namun memang dasar otak masih setengah-setengah menyikapinya dengan kritis. Bertindak dan menjalankan kegiatan dengan sikap ogah-ogahan juga mendatangkan kitab-kitab baru bagi generasi sesudah kita. Kita yang bersikap ogah-ogahan tersebut menjadi ‘tuhan’ baru bagi mereka, generasi penerus kita. Akhirnya, sikap buruk kita tersebut menjadi ‘firman’ baru bagi mereka. Kita harus mengkritisi apa yang salah dari generasi sebelum kita dan melanjutkan semangat berorganisasi mereka. Membuat kreasi baru, bukannya menjiplak karya tangan mereka. Tentu mereka akan senang, walaupun tidak sesuai dengan keinginan mereka tetapi setidaknya dapat memberi warna baru bagi organisasi atau lembaga kemahasiswaan secara umum. Jadi, setan pun bisa benar lewat bisikan-bisikan kritis dan kegiatan yang melenceng dari garis ‘takdir’ lembaga, selama itu masih sesuai dengan tujuan yang telah kita sepakati.
Sebenarnya, topik ini terlintas dibenak saya ketika berbincang-bincang singkat dengan Pak Alwi, seperti yang telah saya ceritakan di awal tulisan. Pembicaraan itu menjurus kepada kondisi lembaga kemahasiswaan sekarang, terutama lembaga internal kampus. Namun ini bukanlah kritik (atau memang sebuah kritik?), karena saya juga merupakan bagian dari sistem lembaga kemahasiswaan yang juga perlu mendapat kritik. Tulisan ini hanya sekedar ‘angin yang tiba-tiba berhembus’ dibenak saya serta perlu atau harus mendapat kritikan, karena ilmu pengetahuan diperoleh bukan berasal dari kebenaran mutlak atau wahyu yang turun dari langit, melainkan kesalahan duniawi yang dicap sebagai kebenaran semu, begitupun tulisan ini. Just share!  

Sabtu, 10 Januari 2015

Ian Hodder



Ian Hodder lahir pada tanggal 23 November 1948 di Bristol, Inggris. Ia adalah arkeolog dari Inggris dan pelopor teori postprocessualist dalam arkeologi yang pertama kali berakar di kalangan mahasiswa dan dalam karyanya sendiri kurun waktu 1980-1990. Hodder percaya pada teori pasca-processualist arkeologi. Dalam bukunya, Teori dan Praktek dalam Arkeologi, Hodder menjelaskan rincian dari enam komponen kunci untuk arkeologi pasca-prosesual, Expendiency situasional, materialisme dan idealisme, pemisahan sistem dan struktur, dikotomi mutlak antara masyarakat dan individu, antropologi terhadap sejarah, dan akhirnya hubungan antara subyek dan obyek.

Pada tahun 1971, Hodder memperoleh gelar Bachelor of Art studi Prasejarah Antropologi dari Universitas London, dan gelar Ph.D dari University of Cambridge pada tahun 1975 pada "Analisis Spasial dalam Arkeologi" (Munson). Analisis spasial adalah metode perekaman artefak atau situs arkeologi, mengkhusus pada relasinya satu sama lain. Oleh karena itu, Hodder melihat cara di mana artefak yang ditemukan di situs, lalu mencari relasi untuk menemukan makna dibaliknya.
Tahun 1993, Hodder dan tim arkeolog internasional melakukan penelitian dan penggalian situs Neolitik berusia 9.000 BP dari Çatalhöyük di pusat Anatolia (Turki modern). Dia adalah direktur proyek Çatalhöyük yang bertujuan untuk melestarikan situs, meng"konteks"kannya, dan mempublikasikannya. Dia juga melakukan berbagai acara-acara (seminar) yang bersifat akademis sebagai pengingat akan sejarah, khususnya artefak, baik dalam konteks masa lalu dan kini. Ia yakin ada fluiditas yang pasti sampai pada penafsiran artefak karena orang memiliki pemahaman yang berbeda dan rekonstrusi pemikiran yang dinamis seiring penemuan-penemuan arkeologi diberbagai situs di dunia.
Dia adalah seorang dosen di Universitas Leeds (1974-1977) sebelum pindah kembali ke Cambridge, di mana ia menjabat beberapa posisi akademik, ia termasuk Profesor Arkeologi dari 1996 hingga 1999. Dia menjadi anggota dari British Academy pada tahun 1996. Dia pindah ke Stanford pada tahun 1999.
Menurut Hodder, Expendiency situasional adalah pertentangan antara normatif dan perilaku adaptif. Dia mencatat bahwa kecenderungan untuk stabilitas dalam ketegangan konstan cenderung menyebabkan perubahan budaya. Selain Hodder, tokoh-tokoh lainnya seperti Franz Boas, A.R. Radcliff-Brown, dan Bronislaw Malinowski juga percaya bahwa pernyataan Hodder mengenai adaptasi yang menyebabkan perubahan budaya masuk akal daripada pernyataan yang mengatakan bahwa kebudayaan sebagai sistem tidak pernah berubah.

Oleh: Muhammad Ikram