Sabtu, 02 Agustus 2014

Jalan-Jalan Arkeologi

Goa Pamona : Situs Religi Suku Pamona

Secara administratif, Goa Pamona terletak sekitar ±56 km dari Kota Poso, tepatnya di Desa Sangele, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Secara geografis, situs ini terletak dipinggir Danau Poso. Vegetasi sekitar situs yang dapat diidentifikasi antara lain, Pohon Beringin (Ficus benjamina), Pohon Durian (Durio zibethinus), Pohon Sukun (Artocarpus altilis), dan tanaman lainnya, seperti rumput-rumput liar. Pintu masuk situs tidak tertutup/ tidak memiliki daun pintu dan situs dikelilingi oleh pagar kawat. Terdapat 36 buah anak tangga yang bersusun dari pintu masuk situs hingga ke mulut gua. Tangga terbuat dari campuran semen dengan kondisi sekarang yang berlumut, selain itu tidak ada pegangan tangga membuat tangga tersebut agak licin.
Goa Pamona merupakan gua karst aktif dengan ukuran lebar mulut gua ±2 m dan tinggi ±0,7 m. Terdapat jalan setepak di dalam gua untuk memudahkan pengunjung memasuki gua tersebut. Panjang jalan setapak tersebut ±200 m dan setelah itu, jalan masuk gua tertutup oleh tumpukan bebatuan/ buntu. Kondisi langit-langit gua yang berlubang-lubang, membuat cahaya matahari mudah masuk sehingga membantu penerangan dalam gua walau hanya di beberapa tempat saja.
Tinggalan-tinggalan arkeologis yang ada di gua tersebut yaitu beberapa tulang belulang manusia. Tulang-tulang yang mampu diidentifikasi adalah tulang paha (Femur), tulang rusuk (Riba), tulang lengan atas (Humerus), tulang pangkal paha (Illum), dan tulang rahang bawah (Mandibula). Jumlah tulang-tulang tersebut belum sempat terhitung dan kondisi beberapa tulang hancur. Tulang-tulang tersebut ditumpuk disebelah kanan jalan setapak, ±80 m dari mulut gua. Beberapa tulang tersebut ditulis-tulisi/ vandalism. Temuan di gua ini sangat sedikit dan terpusat pada titik yang disebutkan atas.
Nama dari gua tersebut diambil dari nama suku yang mendiami wilayah Poso, Suku Pamona. Suku Pamona sendiri sebenarnya berasal dari dataran tinggi Salu Moge (Luwu Timur), namun sejak pemberontakan DI/TII, Suku Pamona tersebar hingga ke tanah Poso. Menurut sejarahnya, Goa Pamona berfungsi sebagai tempat penguburan masyarakat Suku Pamona yang berdarah bangsawan.
Saat ini, Goa Pamona telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dibawah pengawasan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah, yang kantornya berpusat di Gorontalo. Goa Pamona juga merupakan objek wisata yang ditawarkan oleh pemerintah Sulawesi Tengah kepada para turis-turis lokal maupun asing. Walaupun begitu, akses menuju ke Goa Pamona kurang baik dan untuk saat ini, gua tersebut sangat jarang dikunjungi.
Pandangan masyarakat terhadap gua tersebut masih sacral dan cenderung mistis. Tetapi, banyak pasangan-pasangan kawula muda yang berkunjung ke gua tersebut dengan tujuan yang tidak baik. Terlebih lagi, mereka adalah penduduk sekitar situs yang seharusnya menjaga situs itu seperti milik mereka sendiri.
Harapan penulis ke depan, semoga pemerintah dan masyarakat bekerja sama terhadap pelestarian Cagar Budaya, khususnya Goa Pamona karena dilihat dari nilai pentingnya, Goa Pamona sangat berpengaruh terhadap sejarah Suku Pamona sendiri dan juga nilai-nilai religi dan edukasi bagi generasi Pamona yang sekarang. Menjaga nilai luhur (yang baik) dari masa lampau akan membuat masa depan menjadi baik. 

Foto-foto di Goa Pamona.