Senin, 16 Maret 2015

Vere Gordon Childe


Vere Gordon Childe (14 April 1892 – 19 Oktober 1956) adalah seorang arkeolog dan filolog berkebangsaan Australia yang menghabiskan sebagian hidupnya untuk mengkaji secara khusus tentang prasejarah Eropa. Vere Gordon Childe merupakan seorang akademisi yang bekerja untuk Universitas Edinburgh dan kemudian Institut Arkeologi di Inggris, London. Vere Gordon Childe merupakan seorang penganut paham Marxisme dan pendukung dari difusi sejarah budaya.
Vere Gordon Childe terlahir di Sydney. Dia adalah anak satu-satunya dari istri kedua pendeta Stephen Henry Childe yang merupakan Kepala Gereja St Thomas di Inggris dan ibunya adalah Harriet Eliza Childe yang berasal dari keturunan Inggris terpandang. Pada tahun 1907 ia mulai menempuh pendidikan di Sydney Grammar School dan lulus pada tahun 1910 ketika berumur 18 tahun dan pada Juli 1910 ibunya meninggal dunia.
Pada tahu 1911, Vere Gordon Childe melanjutkan pendidikannya di Universitas Sydney dan menyelesaikannya pada tahun 1914 dengan mendapatkan predikat baik di bidang bahasa Latin, Yunani, dan filsafat. Setelah lulus dari Universitas Sydney, dia mendapatkan beasiswa yang membuatnya melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford pada tahun 1915. Disini ia aktif menjadi akti terlibat dalam gerakan sosialis dan pertentangan konservatif.
Setalah menempuh pendidikan di Universitas Oxford dia memutuskan untuk kembali ke Australia pada tahun 1918. Awal karir di Australia dia bekerja sebagi pengajar St Andrew College serta terlibat dalam gerakan sosialis dan anti wajib militer. Tetapi belum lama mengajar di St Andrew College, ia dikeluartkan karena paham sosialis yang dianutnya ditakutkan akan merambat ke siswa-siswa, sehingga pada Oktober 1918 Gordon Childe memutuskan untuk mengajar bahasa Latin di Grammar School Maryborough tetapi hal yang sama kembali  diterimanya. Pada tahun 1919 dia mendapat pekerjaan sebagai sekertaris pribadi politisi John Stroyer yang merupakan seorang anggota terkemuka dari Partai Buruh Australia.   
Pada 1921 Gordon Childe dikirim oleh John Stroyer ke London untuk mengawasi pers Inggris, tetapi pada bulan desember 1921 John Stroyer meninggal dunia sehingga pada awal tahun 1922  Gordon Childe dihentikan dari pekerjaannya. Sejak itu dia memutuskan untuk menetap di Inggris dan belajar di British Museum dan Royal Institute Anthropological. Pada tahun 1927 ia mendapatkan tempat di Universitas Edinburgh, Skotlandia sebagai Abercromby Profesor Arkeologi. Pada tahun 1934 Gordon Childe dan Graham Clark memebentuk sebuah organisasi yang bernama Prehistoric society, dimana Gordon Childe bertindak sebagai presiden organisasi tersebut. Di universitas ini dia difokuskan dalam penelitian. Posisi Childe sebagai profesor arkeologi membuatnya harus memimpin penggalian arkeologi. Ekskavasi yang paling dikenal adalah saat dilakukan di Skara Brae, Kepulauan Orkney pada tahun 1928-1930. Ekskavasi ini mengungkapkan tentang sebuah desa Neolitik dan dipublikasikan dalam bentuk sebuah buku yang berjudul Skara Brae. Pada tahun 1946 Gordon Childe meniggalkan Edinburgh dan kembali ke Inggris untuk mengambil jabatan direktur dan profesor prasejarah Eropa di Institute Of Archaeology (IOA) di London.  
Sejak awal bergelut pada dunia arkeologi Gordon Childe berpendapat bahwa arkeologi tidak hanya sekedar daftra alat-alat batu dan tembikar. Pada tahun 1930 dia mulai menginterpretasi secara ekonomi bukti-bukti arkeologi dan dikembangkan dengan kerangka Marxis untuk menjelaskan masa lalu. Ia menjelaskan bahwa pergeseran terjadi dari masyarakat yang berburu dan mengumpulkan makanan beralih ke gaya hidup pertanian dan memelihara hewan yang disebut dengan teori revolusi Neolitik, serta teori revolusi perkotaan yang menjelaskan proses transisi dari desa-desa pertanian ke masyarakat pekotaan. Gordon Childe merupakan orang pertama yang mengatur besarnya volume data arkeologi di awal abad ke-20 kedalam hal-hal sosial. Gordon Childe menerapakan konsep dan teori ilmu-ilmu sosial untuk menafsirkan temuan arkeologi.  
Gordon Childe dianggap memberikan kontribusi utama dalam metodologi arkeologi di awal abad ke-20. Gordon Childe mengakui terdapat kekurangan dalam sistem tiga zaman yang di kembangkan oleh C.J.Thomsen. Perkembangan suatu masyarakat tidak hanya dilihat dari sisi teknologi melainkan juga dilihat dari sisi sosial ekonomi.   
Pada bulan April 1956 dia dianugerahi medali emas dari Society Of Antiquaries untuk pengabdiannya di bidang arkelogi. Pada tahun 1957 dia memutuskan untuk pensiun dari Institute Of Archaeology (IOA) dan kembali ke Australia. Universitas Sydney yang pernah melarangnya bekerja memberikannya gelar kehormatan. Pada tanggal 19 Oktober 1957 Gordon Childe ditemukan meninggal bunuh diri di Blue Mountains, jenazahnya pun dikremasikan di Crematorium Northern Suburbs. (by. Afdalah Harris)

Howard Carter



Howard Carter lahir di London ,Inggris pada tanggal 9 Mei 1874. Carter adalah anak dari Samuel Carter dan Martha Carter. Ayahnya seorang seniman terkenal,Samuel Carter terus melatih anaknya Howard Carter untuk menjadi seorang seniman muda berbakat. Pada usianya yang ketujuh belas tahun, tepatnya pada tahun 1891 ia dikirim oleh Egypt Exploration Fund untuk membantu Percy Newberry dalam penggalian dan juga merekam tentang Middle Kingdom di makam Beni Hasan. Howard Carter merupakan seorang pemuda yang sangat inovatif dalam meningkatkan metode penyalinan dekorasi makam. Kemudian di tahun 1892 ia bekerja di bawah pengawasan Flinders Petrie selama semusim di Amarna, ibukota yang didirikan oleh Firaun Akhenate. Pada tahun 1894-1899 Howard Carter kembali melanjutkan petualangannya sebagai arkeolog, kali ini dia bekerja untuk Edouard Naville di Deirel-Bahari dan pada saat itulah dia secara sempurna berhasil mencatat relief dinding di kuil Hatshepsut.
Awal karir emas Howard Carter terjadi pada tahun 1899, saat itu dia telah diangkat menjadi Chief inspector di Egyptian Antiquities Service (EAS). Adapun tugas Carter adalah mengawasi mengawasi penggalian di Thebes yang sekarang dikenal sebagai Luxor. Karena terjadi pergolakan yang bermula dari keributan di tempat umum yang dikenal sebagai Peristiwa Saqqara, yaitu keributan antara penjaga situs Mesir dan sekelompok wisatawan Prancis yang tengah mabuk, akhirnya Carter mengundurkan diri dari pekerjaanya.
Meski sempat mundur setelah 3 tahun menjalani masa-masa sulit, Carter dipekerjakan oleh Lord Carnarvon untuk mengawasi penggalian baru pada tahun 1907. Ia diperkenalkan pada Gaston Maspero, ia ingin agar Carter menerapkan metode arkeologi dan sistem pencatatan modern dalam penggalian-penggalian yang dibiayai Lord Carnarvon tersebut. Lord Carnarvon membiayai penggalian Carter di Lembah Para Raja sejak tahun1914. Meski sempat terhenti akibat Perang Dunia I, sampai tahun 1917. Namun Lord Carnarvon tidak puas karena penggalian yang dikerjakan bertahun-tahun itu tidak menemukan hasil yang signifikan, padahal dana untuk pengerjaan penggalian hanya tersisa untuk 1 musim lagi pada tahun 1922.
Penemuan fantastis Carter mulai tercatat pada 4 November 1922. Saat itu kelompok penggali yang diawasi oleh Carter menemukan sebuah tangga, dimana kemudian tangga tersebut diketahui adalah sebuah tangga yang menuju makam Tutankhamun yang merupakan makam Fir’aun terbaik yang pernah diawetkan sekaligus yang paling utuh yang pernah ditemukan di Lembah Para Raja. Pada tanggal 26 November 1922, bersama Carnavon, putrinya dan orang lain yang turut juga hadir berhasil membuat sebuah lubang kecil untuk dapat melihat pada bagian dalam makam. Dari penerangan cahaya lilin, Carter dan semua orang yang hadir berhasil melihat betapa banyaknya harta karun yang tertinggal di tempat pemakaman raja Firaun.
Dalam bukunya berjudul The Tomb of Tut.Ankh.Amen (1923), Carter banyak mencatat pristiwa menarik pada saat penemuan makam Firaun. Carter sendiri meninggal karena penyakit limfoma yang dideritanya. Dia meninggal di Kensington, London pada tanggal 2 Maret 1939 di usianya yang ke-64 tahun. Adapun kematian Carter jauh setelah penemuan makam Firaun. Hal ini membuktikan bahwa mitos yang menyebutkan orang yang menggangu kuburan Firaun akan segera meninggal tidaklah terbukti. (by. M. Masdar Rafiuddin)

KEHIDUPAN PESISIR DILIHAT DARI KACAMATA KEKINIAN



1.    Pendahuluan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV, ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya). Ekologi tentu erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, entah dimana lingkungannya, pastilah mempengaruhi tingkah laku manusia tersebut. Dalam ilmu psikologi, ada tiga teori psikologi dalam memprediksi perilaku manusia. Pertama, perilaku disebabkan dari dalam, kedua, perilaku disebabkan faktor lingkungan atau proses belajar, ketiga, perilaku disebabkan oleh interaksi manusia–lingkungan (A.F. Helmi, 1999:1). Teori ini tentu saja sangat berkaitan dengan ekologi jika ditinjau dari segi psikologis. Selain itu, kondisi alam juga terkait dengan pekerjaan pokok masyarakat dan perekonomian. Masyarakat agraris erat kaitannya dengan sumber perekonomian yang berasal dari lahan pertanian, sedangkan masyarakat maritim erat kaitannya dengan sumber perekonomian yang berasal dari lautan.
Pada tulisan ini, akan ditekankan pada masyarakat pesisir/ maritim, sesuai dengan hasil observasi lapangan yang dilakukan oleh penulis. Dalam kehidupan maritim juga dikenal dengan sosial budaya bahari. Menurut Koentjaraningrat menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”, menurut Sanjek menerapkan konsep “kreasi dan dinamika budaya”, dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi, penjelasan dan analisis secara empirik. Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan, gagasan, keyakinan, dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya), kelembagaan (organisasi, kelompok kerjasama nelayan, hak-hak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut), dan teknologi (sarana/prasarana transportasi laut, sarana penggerak berupa layar, mesin, alat-alat tangkap, perlengkapan fisik lainnya).
Pada tulisan kali ini, penulis mengambil objek di daerah pesisir, tepatnya di Tanjung Bayang, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan. Dari Kota Makassar, Tanjung Bayang berjarak kira-kira 4 km ke arah barat. Alasan penulis memilih objek tersebut dikarenakan kehidupan para penjual dan pekerja jasa hiburan tersebut layaknya kehidupan nelayan pada umumnya dimana ada majikan dan pekerja atau yang masyarakat Makassar kenal sebagai punggawa-sawi. Adanya ‘transformasi profesi’ yang tidak meninggalkan ciri-ciri profei sebelumnya, yaitu dari profesi nelayan menjadi pekerja jasa hiburan tapi tetap memegang ciri-ciri yang ada pada kehidupan nelayan.

2.    Maritim, Masyarakat, dan Lingkungan Modern
Sebenarnya, kata modern kurang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia karena sangat ambivalen[1], dimana masyarakat Indonesia sebagian besar masih menggunakan peralatan-peralatan tradisional dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kata modern yang dimaksud adalah penggunaan teknologi dan juga kehidupan masyarakat yang mainstream. Banyak masyarakat mulai ikut-ikutan dengan perkembangan zaman yang ada meskipun, kebiasaan-kebiasaan lama tidak ditinggalkan. Tak terlepas dari kehidupan pesisir, masyarakat disana juga ternyata mengikuti perkembangan zaman walaupun tak semaju kehidupan di kota. Kondisi lingkungan tersebut mempengaruhi sebagian dari kehidupan mereka, mulai dari segi pekerjaan.
Tradisi kemaritiman adalah kebiasaan masyarakat maritim nusantara yang sudah dilakukan sejak lama. Biasanya tradisi maritim berkaitan dengan fase-fase pembuatan kapal (Safri Burhanuddin, dkk, 2003:173), tetapi jika melihat kondisi yang sekarang, tradisi tersebut mulai hilang. Memang, fase pembuatan kapal sudah hilang, namun tradisi-tradisi seperti mitos-mitos pelaut, sesajen, dan sistem dalam masyarakat maritim tersebut masih ada. Walaupun lingkungan sudah mulai memasuki fase ‘modern’, tapi ideologi nenek moyang masih tetap tersimpan walau hanya sedikit yang dapat dipertahankan pada kehidupan masyarakat pesisir sekarang.

3.    Ekologi Tanjung Bayang
Tanjung Bayang terletak di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan. Tanjung Bayang yang merupakan daerah pesisir kini lebih dikenal sebagai lokasi wisata pantai. Profesi masyarakat sekitar Tanjung Bayang kebanyakan adalah penjual dan pekerja jasa hiburan. Kondisi lingkungannya yang berpasir sangat cocok sebagai tempat berwisata. Melihat hal tersebut, masyarakat mulai memanfaatkan sumber daya yang ada dan mengubah cara hidup mereka yang dari awalnya merupakan tempat bagi para nelayan, sekarang menjadi tempat wisata. Walaupun begitu, masyarakat hanya beralih profesi saja, mereka tidak meninggalkan kebudayaan yang sering disebut punggawa-sawi. Punggawa, dalam hal ini majikan, yang awalnya mempekerjakan orang (sawi) untuk melaut, sekarang mereka mencari pekerja jasa hiburan. Hiburan/ wahana pantai yang ditawarkan yaitu Banana Boat dan kapal bebek.
Salah satu pekerja jasa hiburan bernama Akbar mengaku dipekerjakan oleh Ibu Tanning yang merupakan tetangga dekatnya. Hal ini sangat mirip dengan halnya sistem punggawa-sawi. Pada awalnya, Ayah dari Ibu Tanning merupakan juragan nelayan ditempat tersebut, kini, sejak 10 tahun terakhir ketika Tanjung Bayang menjadi lokasi wisata, Ibu Tanning memanfaatkan kapal-kapal nelayan yang ia miliki untuk dipakai sebagai Banana Boat. Selain sistem punggawa sawi, ternyata pekerja jasa hiburan maupun penjual memiliki kepercayaan terhadap mitos-mitos tentang laut, seperti menaruh sesajen ditengah laut pada hari-hari tertentu. Ditengah lingkungan dimana kebudayaan lokal sedang tergeser oleh westernisasi, mereka berusaha mempertahankan kebudayaan asli, meskipun tidak semuanya. Sebenarnya, hal tersebut yang membuat suatu daerah terlihat unik.

4.    Separuh Perjalanan...
Zaman memang selalu berubah-ubah dan menciptakan warnanya sendiri. Walaupun berubah, tentunya warna dasar tetap ada dan mungkin menghilang. Kehidupan sekarang merupakan kehidupan masa lampau yang dipoles oleh waktu. Penulis menyimpulkan bahwa kehidupan maritim di Tanjung Bayang memiliki beberapa kemiripan dengan kehidupan nelayan pada umunya. Contohnya pada penelitian hari kelima, Akbar yang seorang pekerja jasa hiburan berperan sebagai Sawi, sedangkan majikannya berperan sebagai Punggawa. Mungkin yang membedakan hanya profesi saja, dimana mereka tidak lagi melaut, tetapi pekerjaan yang memanfaatkan keindahan pantai Tanjung Bayang.
Selain itu, para penjual-penjual di sekitar Tanjung Bayang memanfaatkan jumlah pengunjung yang ada. Diperkirakan jumlah pengunjung dalam sehari berkisar dari 500 orang sampai 1000 orang. Tentu, Tanjung Bayang menjadi lahan ekonomi yang menjanjikan bagi para penjual-penjual ini. Kecuali, pada hari-hari dengan cuaca yang kurang baik, pengunjung yang datang kurang ramai.
Entah berapa lama lagi perjalanan yang ditempuh oleh kebudayaan untuk berubah seutuhnya atau sebaliknya, kembali ke asal. Sesungguhnya, masyarakat sendirilah yang menentukan ke arah mana kebudayaan mereka dibawa.


KEPUSTAKAAN
Budiawan, Ambivalensi: Post-Kolonialisme Membedah Musik Hingga Agama di Indonesia (Jakarta: Jalasutra, 2010)
Burhanuddin, Safri, dkk, Sejarah Maritim Indonesia (Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati, Badan Riset Kelautan Perikanan (BRKP), dan Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003).
Helmi, A.F., “Beberapa Teori Psikologi Lingkungan”, Buletin Psikologi, Tahun VII, 2 Desember 1999.


[1] Budiawan, Ambivalensi Post-Kolonialisme Membedah Musik Sampai Agama di Indonesia (Jakarta, Jalasutra : 2010), perihal. 1

Gertrude Bell



Gertrude Bell Margaret Lowthian, CBE (14 Juli 1868 - 12 Juli 1926) adalah seorang penulis Inggris, wisatawan, pejabat politik, administrator, arkeolog dan spy orang yang mengeksplorasi, memetakan, dan menjadi sangat berpengaruh kepada British kekaisaran pembuat kebijakan karena keahlian dan hubungan, dibangun melalui perjalanan yang luas di Greater Suriah, Mesopotamia, Asia Kecil, dan Arab. Bersamaan dengan T.E. Lawrence, Bell membantu mendirikan dinasti Hashemite yang sekarang di Yordania dan juga di Irak. Dia berperan besar dalam mengembangkan dan membantu mengelola negara modern Irak, dengan memanfaatkan sudut pandangnya yang unik dari perjalanannya serta hubungan dengan para pemimpin suku di seluruh Timur Tengah. Selama hidupnya dia sangat dihargai dan dipercayai oleh para pejabat tinggi Inggris dan diberikan kekuatan besar bagi seorang wanita pada saat itu. Dia telah digambarkan sebagai "salah satu dari beberapa para wakil Pemerintah Mulia yang diingat oleh orang-orang Arab dengan apa pun yang menyerupai kasih sayang".
Bell lahir pada 14 Juli 1868 di Washington Hall, di County Durham, Inggris - sekarang dikenal dengan Dame Margaret Hall - sebuah keluarga yang kekayaannya memungkinkan perjalanannya di sini. Dia digambarkan memiliki "rambut kemerahan dan matanya yang biru-hijau tindik, wajah oval ayahnya dan hidung runcing". Kepribadiannya yang ditandai dengan energi, kecerdasan, dan haus akan petualangan yang berbentuk Jalur jalan di kehidupan. Kakeknya adalah pandai besi Sir Isaac Lowthian Bell, seorang industrialis dan Anggota DPR, dalam masa jabatan kedua Benjamin Disraeli. Perannya di British pembuat kebijakan terpapar pada usia muda dengan masalah internasional dan kemungkinan besar mendorong rasa ingin tahunya bagi dunia, dan keterlibatannya dalam politik internasional.
Ibu Bell, Mary Perisai Bell, meninggal pada tahun 1871, saat melahirkan seorang putra yang bernama Maurice. Pada waktu itu Bell telah berumur tiga tahun, dan kematian ibunya mengarahkan Bell pada hubungan yang erat dengan ayahnya seumur hidup. Sir Hugh Bell, yang merupakan walikota Middlesbrough sebanyak tiga kali. Sepanjang hidupnya ia berkonsultasi dengan dia mengenai persoalan politik. Beberapa biografi mengatakan bahwa meninggalnya ibunya telah menyebabkan trauma masa kecil yang mendasarinya, terungkap melalui periode depresi dan perilaku berisiko.
Gertrude Bell menerima pendidikan awal dari Ratu Collage di London dan kemudian di Lady Margaret Hall, Universitas Oxford pada usia 17. Sejarah adalah salah satu dari beberapa mata pelajaran perempuan diperbolehkan untuk mempelajari, disebabkan oleh banyak pembatasan yang dikenakan pada mereka pada saat itu. Dia mengkhususkan diri dalam sejarah modern, di mana ia menerima gelar kehormatan kelas pertama dalam dua tahun.
Gertrude Bell hidup kehidupan yang luar biasa, terutama diingat untuk asimilasi perintis nya budaya Arab. Meskipun seorang sarjana brilian, arkeolog, pendaki gunung dan ahli bahasa, dia juga menyempatkan diri untuk menjadi sosok terkemuka untuk Gerakan anti perjuangan hak pilih perempuan (mungkin aneh mengatakan jika perempuan masih tertarik pada pekerjaan rumah tangga, mengapa mereka mendapatkan suara). Beberapa bahkan memanggilnya 'Ibu dari Irak'. Dalam era Victoria yang menahan peranan perempuan dalam masyarakat, dia terbukti tak kenal takut mengeluarkan wisatawan bertahun-tahun melintasi padang pasir Arabia dan berteman dengan orang-orang Arab. Meskipun para pangeran Arab tidak terbiasa untuk wanita bermain seperti peran penting dalam politik mereka umumnya diterima dengan hangat dan dia pada gilirannya dia merasa bagian dari budaya mereka. Sebagai seorang tokoh terkemuka dalam pembentukan Irak modern, Gertrude Bell bisa digambarkan sebagai imperialis Inggris bangga. Namun ia masih sempat juga untuk membantu menerangi puisi Sufi mistik Hafiz, yang menawarkan terjemahan simpatik yang masih populer saat ini.
Bell paman, Sir Frank Lascelles, adalah menteri Inggris (mirip dengan duta besar) di Teheran, Persia. Pada Mei 1892, setelah meninggalkan Oxford, Bell pergi ke Persia untuk mengunjunginya. Dia menggambarkan perjalanan ini dalam bukunya, Gambar Persia, yang diterbitkan pada tahun 1894. Dia menghabiskan sebagian besar dekade berikutnya berkeliling dunia, pendakian gunung di Swiss, dan mengembangkan semangat untuk arkeologi dan bahasa. Dia telah fasih dalam bahasa Arab, Persia, Perancis dan Jerman dan juga juga berbicara bahasa Italia dan Turki. Pada tahun 1899, Bell pergi ke Timur Tengah. Dia mengunjungi Palestina dan Suriah di tahun yang sama dan pada tahun 1900, sebuah perjalanan dari Yerusalem ke Damaskus, dia mulai berkenalan dengan orang Druze yang tinggal di Jabal al-Druze. Dia berkelana melintasi Arabia enam kali selama 12 tahun ke depan.
Antara 1899 dan 1904, ia menaklukkan beberapa gunung termasuk La Meije dan Mont Blanc saat ia mencatat 10 jalur baru atau pendakian pertama di Bernese Alps. Satu Alpine puncak di Bernese Oberland, yang tingginya 2632 m. Pada bulan Januari 1909, dia pergi ke Mesopotamia. Dia mengunjungi kota Het dari Karkemis, memetakan dan menggambarkan kehancuran Ukhaidir dan akhirnya pergi ke Babel dan Najaf. Kembali di Karkemis, ia berkonsultasi dengan dua arkeolog di situs. Salah satunya adalah T. E. Lawrence. Dia 1913 Perjalanan Arab pada umumnya sulit. Dia adalah wanita asing kedua setelah Lady Anne Blunt untuk mengunjungi Ha'il.
Pada pecahnya Perang Dunia I, permintaan Bell untuk Timur Tengah mengeposkan pesan awalnya ditolak. Dia malah menjadi relawan Palang Merah di Perancis.
Kemudian, dia ditanya oleh Intelijen Inggris untuk mendapatkan prajurit melewati padang pasir, dan dari periode Perang Dunia I sampai kematiannya ia adalah satu-satunya wanita yang memegang kekuasaan politik dan pengaruh dalam membentuk kebijakan kekaisaran Inggris di Timur Tengah. Dia sering mengakui tim lokal dimana dia diarahkan dan dipimpin ekspedisi nya. Sepanjang perjalanannya dia Bell menjalin hubungan erat dengan anggota suku di Timur Tengah. Selain itu, seorang wanita yang memberikan akses eksklusif nya ke kamar-kamar istri pemimpin suku, memberikan kemudahan untuk mendapatkan perspektif dan fungsi lainnya.
Cinta pertama Gertrude Bell sejak dulu arkeologi, sehingga ia mulai membentuk yang kemudian menjadi Museum tua Arkeologi Baghdad, kemudian berganti nama menjadi Museum tua Irak. Tujuannya adalah untuk melestarikan budaya Irak dan sejarah yang termasuk peninggalan penting peradaban Mesopotamia, dan menjaga mereka di negara asal mereka. Dia juga mengawasi ekskavasi dan memeriksa temuan dan artefak. Dia membawa koleksi yang luas, seperti dari Kekaisaran Babilonia. Museum ini secara resmi dibuka pada bulan Juni tahun 1926, tak lama sebelum kematiannya Bell. Setelah kematiannya, atas saran Emir, sayap kanan Museum tua itu bernama sebagai kenangan baginya. Bangunan yang asli (bangunan museum tua, Gedung Administrasi, Perpustakaan, dan gedung tua) yang dibangun di situs ini dengan bantuan dari Pemerintah Jerman pada tahun 1964-1966 dan dibuka pada tahun 1966. Gedung Museum tua ini dibangun oleh Pemerintah Italia pada tahun 1983. Secara ekstensif dijarah selama invasi AS tahun 2003. Gedung terbaru, Baru Koleksi Bangunan, dibangun oleh Konstruksi Kortage pada tahun 2006, yang disponsori oleh pemerintah Irak.
Bell secara singkat kembali ke Britania pada tahun 1925, dan menemukan dirinya menghadapi masalah keluarga dan kesehatan yang buruk. Keberuntungan keluarganya mulai menurun akibat terjadinya pemogokan pekerja pasca-Perang Dunia di Inggris dan depresi ekonomi di Eropa. Ketika dia pulih, ia mendengar bahwa adik Hugo meninggal karena tifus. Pada 12 Juli 1926, Bell ditemukan tewas, karena overdosis pil tidur jelas. Ada banyak perdebatan tentang kematiannya, tapi tidak diketahui apakah overdosis adalah bunuh diri yang disengaja atau tidak disengaja karena dia telah meminta pembantunya untuk membangunkannya. Ia dimakamkan di pemakaman Inggris di distrik al-Sharji Bab Baghdad. Pemakamannya adalah peristiwa besar, dihadiri oleh sejumlah besar orang, termasuk rekan-rekannya, para pejabat Inggris dan Raja Irak. (by. Muhajir)