Senin, 16 Maret 2015

RELASI AKTIVITAS PENYELAMAN DENGAN FOLKLORE, OSEANOGRAFI, DAN KLIMATOLOGI


Abstrak

Aktivitas manusia selalu erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan hidup. Kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungannya sangat baik sehingga mampu memanfaatkan ruang yang ada, termasuk wilayah maritim. Fokus tulisan ini diarahkan pada relasi antara aktivitas menyelam sebagai salah satu bentuk budaya maritim dengan cerita rakyat (folklore), oseanografi, dan klimatologi. Kesimpulan dari tulisan ini adalah terciptanya relasi-relasi antar pokok bahasan. Ada tiga relasi yang tercipta, yaitu relasi penyelaman dengan folklore-oseanografi; relasi penyelaman dengan folklore­-klimatologi; dan relasi penyelaman dengan oseanogafi-klimatologi.
Kata kunci: lingkungan, selam, cerita rakyat, oseanografi, klimatologi

1.    Pendahuluan
Aktivitas manusia selalu erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan hidup, baik dalam bentuk material/fisik maupun pengetahuan yang bersifat abstrak. Pemenuhan kebutuhan hidup tersebut tentunya mengalami serangkaian proses adaptasi yang memungkinkan manusia untuk bisa bertahan lama di suatu tempat atau biasa disebut lingkungan hidupnya (human environment). Secara garis besar, lingkungan hidup manusia terbagi atas tiga yaitu, abiotik, biotik, dan sosial (Ritonga, 2001:24; Matsum, 2001). Interaksi manusia terhadap unsur-unsur lingkungan melahirkan hubungan timbal-balik antara manusia dengan lingkungan sekitarnya (simbiosis). Hubungan timbal-balik ini memerlukan jangka waktu yang lama dan berkelanjutan serta perlu kesesuaian karakteristik antara manusia dengan lingkungannya (Soeharto, 2004). Hubungan tersebut menimbulkan ketergantungan oleh manusia terhadap alam sekitarnya. Salah satu akibat dari ketergantungan manusia tersebut menimbulkan usaha kreatif dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya demi kelangsungan hidupnya (Chandra, 2014:3).
Secara geografis, manusia dapat beradaptasi dengan baik, di darat (dataran rendah dan dataran tinggi) maupun di wilayah pesisir, bahkan di perairan terbuka. Hampir tidak ada batasan bagi manusia untuk tidak mampu beradaptasi. Pada tulisan kali ini, pembahasan hanya difokuskan pada interaksi manusia terhadap kehidupan dipesisir dan adaptasinya terhadap lingkungan di perairan terbuka. Batasan pembahasan pada tulisan ini adalah mengenai hubungan antara aktivitas penyelaman dengan kearifan lokal masyarakat maritim (local wisdom) serta peran ilmu-ilmu yang terkait seperti oseanografi dan klimatologi. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui relasi antara aktivitas penyelaman dengan cerita rakyat/mitos (folklore) sebagai salah satu bentuk kearifan lokal, oseanografi, dan klimatologi.

2.    Kebudayaan Maritim: Aktivitas dan Mitos Masyarakat di Perairan Terbuka
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV, maritim merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas di perairan, pelayaran, dan perkapalan. Maka, kebudayaan maritim bisa kita simpulkan sebagai suatu kebudayaan yang manusia ciptakan oleh karena adaptasi dan interkasinya dengan kehidupan perairan terbuka, baik di laut, danau, sungai, maupun rawa. Maritim menghasilkan budaya yang beragam, mulai dari teknologi, kepercayaan masyarakat, hingga usaha untuk memenuhi kebutuhan jasmani mereka (baca: makanan).
Aktivitas maritim ini telah dimulai sejak manusia mengembangkan kemampuan bertahan hidup di pesisir. Mereka mulai mengenal sistem perekonomian dan menciptakan kondisi layak untuk tinggal di wilayah pesisir[1]. Dilihat dari segi mata pencaharian, masyarakat pesisir juga disebut sebagai masyarakat nelayan karena sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai nelayan (Kusnadi, 2010). Secara ekologis, masyarakat pesisir mempunyai alternatif pemanfaatan dua lingkungan hidup, yaitu daratan dan lautan. Bagi masyarakat nelayan, komoditi ekonomi selain kegiatan melaut merupakan mata pencaharian tambahan, sedangkan pada masyarakat petani[2], keadaan ini berlaku sebaliknya, yaitu sektor perikanan adalah sebagai bentuk mata pencaharian tambahan (Koentjaraningrat, 1990:32). Sejak dahulu, manusia telah memahami dan menghayati kegunaan laut sebagai sarana untuk menunjang kehidupan yaitu sebagai alat perdagangan maupun jalur komunikasi (Anwar, 2013).
Fernard Braudel (dalam Burhanuddin, 2003:6) mengatakan bahwa laut/perairan terbuka menciptakan dinamika yang menjembatani interaksi sosial masyarakat melalui transportasi dan perdagangan. Selain teknologi yang mempermudah mereka untuk mencari makanan seperti alat transportasi berupa perahu, mereka juga mengembangkan kemampuan fisik mereka untuk beradaptasi dengan air, contohnya berenang dan menyelam.
Aktivitas di air dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup pun terkait erat dengan budaya yang melingkupi kondisi sosial masyarakatnya. Bagi masyarakat maritim/nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai pedoman hidup, sumber norma sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989:68-69). Kearifan lokal dalam tradisi yang merupakan wujud adaptasi dan hasil olah pikir para pendahulu diturunkan dari generasi ke generasi menciptakan suatu sistem aturan adat maritim, salah satunya sistem kepercayaan dalam bentuk doa-doa/mantera, tari-tarian, syair, ritual tolak bala, dsb. (Noorduyn, 1957; Mahzim, 2005). Sistem aturan dan kepercayaan tersebut saling terkait erat. Salah satu wujud dari kearifan lokal tersebut adalah cerita rakyat/mitos (folklore) yang berkenaan dengan kehidupan maritim. Sampai sekarang, cerita rakyat tersebut masih ada di masyarakat maritim. Bagi masyarakat maritim, cerita-cerita rakyat tersebut sangat bepengaruh terhadap keseharian mereka, khususnya pada mata pencaharian mereka.
Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa selain teknologi perahu, mereka juga mengembangkan kemampuan fisik mereka dalam hal berenang dan menyelam. Berenang dan menyelam biasanya dilakukan di wilayah perairan dangkal. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan berkelompok karena keterbatasan kemampuan fisik manusia dan rumitnya proses kerja. Keterlibatan individu lain dalam suatu aktivitas sangat diperlukan, baik sebagai pengarah, tenaga pembantu, mitra kerja, penampung hasil tangkapan, dan sosok individu yang memberikan petunjuk gaib[3] (Moeis, 2008:8-9). Selain itu, adapun kemunculan sosok-sosok gaib dalam mitos masyarakat, contohnya sosok Nyai Roro Kidul serta tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral dan dimanfaatkan sebagai aktivitas religius oleh masyarakat di sepanjang pesisir pantai selatan Pulau Jawa. Mitos-mitos ini menghasilkan berbagai larangan-larangan melaut yang biasa disebut pamali. Larangan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kegiatan melaut, termasuk berenang dan menyelam. Pamali tersebut diturunkan dari generasi berikutnya dalam bentuk folklore[4]. Jadi, bisa disimpulkan bahwa aktivitas melaut dan menyelam terkait erat dengan aturan-aturan adat dan mitos-mitos dalam masyarakat.

3.    Aktivitas Menyelam dan Ilmu Pengetahuan (Oseanografi dan Klimatologi)
Pada pembahasan sebelumnya, telah dipaparkan sedikit mengenai hubungan antara aktivitas menyelam dengan folklore sebagai salah satu bentuk kearifan lokal. Seiring berkembangnya zaman, kepercayaan-kepercayaan masyarakat pendahulu telah tergantikan dengan ilmu pengetahuan yang “sedikit” lebih akurat. Ilmu pengetahuan tersebut rupanya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dahulu jawabannya selalu dikaitkan dengan hal-hal gaib menjadi masuk akal. Ilmu pengetahuan yang baru ini memberikan penjelasan-penjelasan lebih ilmiah ketimbang folklore, namun apakah itu berpengaruh dengan aktivitas menyelam. Selanjutkan, penulis akan mencoba menguraikan relasi antara aktivitas menyelam dengan oseanografi dengan klimatologi.

3.1.       Oseanografi
Pada awalnya, laut dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian. Selain itu, laut juga dimanfaatkan untuk transportasi dengan memanfaatkan angin. Bahkan sampai saat ini, kapal kargo masih mengantar barang lintas pulau. Hari ini, makanan dan transportasi yang kita manfaatkan berasal dari laut. Para saintis telah mempelajari laut untuk waktu yang lama. Namun, akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kebanyakan orang yang tertarik untuk mempelajari aspek tertentu dari laut. Sebagai contoh, beberapa orang yang tertarik pada biota laut, yang lain tertarik pada kondisi cuaca di laut, seperti badai dan ada beberapa yang ingin tahu tentang arus laut dan angin sehingga mereka bisa melakukan perjalanan lebih cepat dan aman. Sekitar seabad yang lalu, para ilmuwan laut mulai menyadari bahwa semua aspek laut dapat disatukan; Sebagai contoh, arus laut (fisika) dapat mengontrol biota (biologi) yang melimpah di laut, karena arus laut membawa zat kimia khusus (kimia) yang diperlukan untuk mempertahankan tanaman laut seperti plankton (geologi). Alih-alih menjadi ahli biologi, ahli kimia, ahli geologi, ahli fisika, dll. yang mempelajari laut, mereka mulai belajar tentang ilmu mereka satu sama dan menjadikan mereka sebagai oseanografer. Demikianlah sejarah kemunculan oseanografi (ilmu kelautan) yang sangat berhubungan ekologi laut dan juga sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan karena oseanografi tergolong ilmu yang baru (Noyes, 2015:1-2,7).
Jika dihubungkan dengan aktivitas selam, maka oseanografi lebih mengarah ke penelitian mengenai ekologi laut. Selain itu, oseanografi juga dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi selam seperti kapal selam (submarine), tentunya sebagai penunjang penelitian ekologi di bawah air. Contoh pengembangan teknologi selam yang termukhtahir pada awal tahun 2000-an adalah Kapal selam Autonomous yang dapat diprogram untuk melakukan penyelaman tanpa awak dan prosedur penelitian oseanografi fisik (Tomczak, 2000:109). Selain teknologi selam, seperti kapal selam, penelitian oseanografi fisik juga memberikan pengetahuan tentang tekanan yang diterima pada saat manusia menyelam sangat berbeda dengan tekanan yang diterima oleh biota laut. Kemampuan menyelam dan ketahanan manusia terhadap tekanan bawar air mempengaruhi seberapa dalam manusia tersebut dapat menyelam dan katup-katup yang terdapat di saluran pernapasan dan rongga-rongga tubuh yang lain mengalami kerusakan apabila manusia melewati batas penyelaman. Biota laut memiliki fisik berongga dan bersifat hidrodinamis sehingga tahan terhadap tekanan air laut, sangat berbeda dengan tubuh manusia yang terisi oleh udara (Karp-Boss, 2009:15-16).
Sudah terlihat jelas mengenai keterhubungan antara aktivitas selam dengan oseanografi. Penyelaman merupakan salah satu cara untuk menunjang aktivitas penelitian bawah laut. Selain itu, penyelaman dalam oseanografi tidak hanya terbatas pada tenaga manusia, melainkan perkembangan teknologi kapal selam juga turut membantu dan memudahkan manusia untuk melakukan penelitian-penelitian oseanografi.

3.2.       Klimatologi
Klimatologi adalah studi ilmiah mengenai iklim. Iklim adalah kondisi cuaca rata-rata yang diperoleh melalui sintesis unsur cuaca yang berlaku selama 30-35 tahun. Cuaca dapat didefinisikan sebagai kondisi atmosfer di suatu tempat atau lokasi tertentu pada waktu tertentu. Unsur-unsur cuaca yaitu sinar matahari, suhu, tekanan, curah hujan, kelembaban, penguapan, kondisi angin dll. Dengan demikian klimatologi berusaha memberikan pemahaman tentang sistem kerja iklim di bumi, variasinya antar waktu dan ruang dan pemanfaatan sumber daya yang disediakan oleh iklim (Bello, 2011).
Klimatologi telah menjadi cabang ilmu pengetahuan yang dinamis dan fungsional. Perkembangan penelitian klimatologi di arahkan berbagai bidang yang kinerjanya sangat teknis, seperti pertanian, kehutanan, ekosistem, energi, industri, produksi dan distribusi barang, desain rekayasa dan konstruksi, transportasi, pariwisata, asuransi sumber daya air dan pengelolaan bencana, perikanan, dan pembangunan pesisir (World Meteorological Organization, 2010:7-8).
Oleh karena secara geografis klimatologi mencangkup semua aspek ekologis, maka kehidupan pesisir tentu juga berpengaruh, begitupun dengan aktivitas selam. Kondisi cuaca, angin, dan juga arus laut adalah faktor yang sangat mempengaruhi kegiatan menyelam, baik dengan tujuan penelitian maupun sebagai mata pencaharian. Tradisi masyarakat masa lalu juga memperhitungkan cuaca dan hari baik untuk berkegiatan di laut dengan melihat tanda-tanda alam. Hal tersebut dapat menjadi benang merah antara diving dengan folklore dan klimatologi.

4.    Relasi Aktivitas Menyelam dengan Folklore, Oseanografi, dan klimatologi
Menyelam merupakan salah satu bentuk tradisi masyarakat maritim. Kemampuan untuk beraktivitas dan kontak fisik dengan air/bawah air dimanfaatkan untuk menghasilkan kebutuhan pokok maupun komoditi (perekonomian). Selain itu, menyelam juga memiliki kegunaan lain dibidang ilmu pengetahuan. Aktivitas menyelam dapat menjadi contoh eksperimen atau penelitian yang berkenaan dengan sistem ekologi di bawah air. Pengetahuan mengenai perairan juga sangat dibutuhkan dalam melakukan penyelaman dengan mempertimbangkan segala resikonya. Tradisi maupun ilmu pengetahuan saling terkait satu sama lain, baik secara teoritis maupun metodologis.
Pembahasan-pembahasan sebelumnya menitik beratkan pada folklore, oseanografi, dan klimatologi. Ketiganya mempunyai keterkaitan dengan aktivitas menyelam. Namun secara spesifik, penulis membagi relasi antara aktivitas selam dengan tiga pokok bahasan menjadi tiga, yaitu: pertama adalah relasi penyelaman dengan folklore-oseanografi. Folklore memiliki aturan-aturan yang membatasi area penyelaman hanya pada wilayah perairan dangkal, hal itu sangat terkait dengan penelitian-penelitian oseanogafi yang membuktikan keterbatasan manusia di kedalaman air. Selain itu, folklore memberikan pengetahuan untuk melestarikan ekosistem laut, begitupun dengan oseanografi; kedua adalah relasi penyelaman dengan folklore-kilmatologi. Relasi ini terkait erat dengan iklim wilayah pesisir. Kepercayaan masyarakat pesisir mengenai hari baik dan hari buruk dengan melihat tanda-tanda alam merupakan salah satu bentuk praktis dari klimatologi. Cuaca mempengaruhi aktivitas melaut masyarakat nelayan secara terus-menerus dan akhirnya, pengetahuan mereka tentang cuaca diturunkan ke generasi selanjutnya dalam bentuk folklore. Klimatologi menjawab sistem iklim, hampir sama dengan kemampuan masyarakat lokal dalam membaca tanda-tanda alam, hanya saja klimatologi lebih ilmiah; dan relasi yang terakhir adalah relasi penyelaman dengan oseanografi-klimatologi. Hal ini sungguh sangat jelas, dimana keduanya sangat berpengaruh pada aktivitas selam yang arahnya ke penelitian. Ekosistem dan ekologi laut dapat dijawab melalui kedua cabang ilmu ini, ditambah lagi dengan kegiatan menyelam sebagai salah satu metodenya.

5.    Penutup
Segala aktivitas manusia tentunya memiliki keterkaitan satu sama lain, baik yang dibawa dari masa lalu maupun yang dikembangkan pada masa sekarang. Kemajuan teknologi dan pemikiran manusia telah menciptakan peradaban baru yang sangat maju. Namun, semuanya itu tidak terlepas dari kearifan lokal yang masih tradisional. Definisi peradaban modern memang masih sangat ambigu, tetapi nilai-nilai norma dan kemajuan intelektualitas yang bersifat positif telah membuat suatu kebudayaan yang sangat kompleks. Tidak hanya aktivitas menyelam, aktivitas pertanian, perdagangan, dan penelitian dibidang sains juga membawa nilai-nilai kearifan lokal didalamnya, walaupun itu hanya sedikit. Maka dari itu, relasi antara tradisi lokal dengan ilmu pengetahuan mesti ada untuk menciptakan “modernitas” di masa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Raffi. “Kembalikan Kejayaan Maritim RI.” Kompasiana. 16 Desember 2013. http://hankam.kompasiana.com/2013/12/16/kembalikan-kejayaan-maritim-ri--619670.html (diakses Maret 1, 2015).
Azis, Umirul. Polarisasi Keberagaman Masyarakat Ginandong Karanggayam Kebumen. Skripsi, Yogyakarta: Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2009.
Bartis, Peter. Folklife and Fieldwork: An Introduction to Field Techniques. Washington: American Folklife Center, 2002.
Bello, N.J., A.A. Amori, dan Adejuwon. Introduction to Climatology and Biogeography. Bahan Ajar, Denver: Department of Water Resources Management and Agrometeorology College of Environmental Resources Management, 2011.
Burhanuddin, Safri (dkk). Sejarah Maritim Indonesia. Semarang: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-Hayati Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003.
Chandra, Peniel. “Environmental Archaeology.” Analisis Bahan Pembuatan Wadah Kubur (Yumu) di Situs Gua Latea, Kecamatan Pamona Pasulemba, Kabupaten Poso. Makassar: Tidak Terbit, 4 Desember 2014.
Dahuri, R. Ekosistem Pesisir. Makalah/Materi Kuliah, Bogor: Institut Pertanian Bogor, 1996.
Karp-Boss, Lee (dkk). Teaching Physical Concepts in Oceanography: An Inquiry-Based Approach. Maryland: The Oceanography Societies, 2009.
Keesing, Roger M. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga, 1989.
Koentjaraningrat. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT Dian Rakyat, 1990.
Kusnadi. “Kebudayaan Masyarakat Nelayan.” Jelajah Budaya Tahun 2010 "Ekspresi Budaya Masyarakat Nelayan di Pantai Utara Jawa". Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2010.
Mahzim, Syaifuddin Hj. Wan. Mantera dan Upacara Ritual Masyarakat Melayu Pesisir Timur di Sumatera Utara: Kajian Tentang Fungsi dan Nilai-Nilai Budaya. Disertasi, Kuala Lumpur: Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia, 2005.
Matsum, Junaidi H. Interaksi Sosial dan Hasil Belajar Siswa di Sekolah: Studi Eksperimen Model Kelompok Belajar Kooperatif dalam Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Siswa SLTP KORPRI Unit Universitas Pendidikan Indonesia. Disertasi, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2001.
Moeis, Syarif. “Adaptasi Ekologi Masyarakt Pesisir Selatan Jawa Barat Suatu Analisa Kebudayaan (Gambaran Komunitas Cipatugaran Kecamatan Palabuanratu Kabupaten Sukabumi Jawa Barat).” Diskusi Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI Bandung . Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia, 2008.
Noorduyn, Jacobus. “A Code of Bugis Maritime Laws.” Dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 113, oleh C.H. Thomson (ed), 238-251. Leiden: KITLV, 1957.
Noyes, T. James. “Introduction to Oceanography.” Oceanography 10, 2015: 1-18.
Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV. Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 2012.
Ritonga, Abdurrahman. Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Universitas Indonesia, 2009.
Soeharto, Bohar. “Hubungan Timbal-Balik Antara Manusia dan Alam.” MIMBAR Jurnal Sosial dan Pembangunan Volume 20. 2004. http://ejournal.unisba.ac.id/ (diakses November 10, 2014).
Tomczak, Matthias. Lecture Notes in Oceanography. Adelaide: Flinders University, 2000.
World Meteorological Organization. Guide to Climatological Pratices (Third Edition). Jenewa: World Meteorological Organization, 2010.



[1] Dahuri (1996) mendefenisikan wilayah pesisir sebagai suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan, dimana batas ke arah darat adalah jarak secara arbiter dari rata-rata pasang tertinggi dan batas ke arah laut adalah yurisdiksi wilayah provinsi di suatu negara.
[2] Yang dimaksud petani dalam tulisan ini adalah petambak atau petani budi daya laut.
[3] Petunjuk gaib yang diyakini masyarakat menentukan hari-hari baik dalam melakukan aktivitas menyelam. Kebudayaan masyarakat pesisir Pulau Jawa mengalami akulturasi dengan budaya Islam. Oleh karena itu, petunjuk gaib dianggap wahyu dari Yang Maha Kuasa. Sangat berbeda dari segi Islamisasi dengan masyarakat pedalaman yang masih memegang teguh Kejawen, namun dari pengaruh kepercayaan nenek moyang, kedua masyarakat tersebut hampir sama (Azis, 2009:3).
[4] Istilah folklore diperkenalkan pertama kali oleh William J. Thoms pada tahun 1846 merujuk pada syair-syair dan petuah-petuah magis yang berisi aturan-aturan dalam bentuk nyanyian daerah (folksong) di Amerika (Bartis, 2002:1).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar