Sabtu, 10 Januari 2015

Ian Hodder



Ian Hodder lahir pada tanggal 23 November 1948 di Bristol, Inggris. Ia adalah arkeolog dari Inggris dan pelopor teori postprocessualist dalam arkeologi yang pertama kali berakar di kalangan mahasiswa dan dalam karyanya sendiri kurun waktu 1980-1990. Hodder percaya pada teori pasca-processualist arkeologi. Dalam bukunya, Teori dan Praktek dalam Arkeologi, Hodder menjelaskan rincian dari enam komponen kunci untuk arkeologi pasca-prosesual, Expendiency situasional, materialisme dan idealisme, pemisahan sistem dan struktur, dikotomi mutlak antara masyarakat dan individu, antropologi terhadap sejarah, dan akhirnya hubungan antara subyek dan obyek.

Pada tahun 1971, Hodder memperoleh gelar Bachelor of Art studi Prasejarah Antropologi dari Universitas London, dan gelar Ph.D dari University of Cambridge pada tahun 1975 pada "Analisis Spasial dalam Arkeologi" (Munson). Analisis spasial adalah metode perekaman artefak atau situs arkeologi, mengkhusus pada relasinya satu sama lain. Oleh karena itu, Hodder melihat cara di mana artefak yang ditemukan di situs, lalu mencari relasi untuk menemukan makna dibaliknya.
Tahun 1993, Hodder dan tim arkeolog internasional melakukan penelitian dan penggalian situs Neolitik berusia 9.000 BP dari Çatalhöyük di pusat Anatolia (Turki modern). Dia adalah direktur proyek Çatalhöyük yang bertujuan untuk melestarikan situs, meng"konteks"kannya, dan mempublikasikannya. Dia juga melakukan berbagai acara-acara (seminar) yang bersifat akademis sebagai pengingat akan sejarah, khususnya artefak, baik dalam konteks masa lalu dan kini. Ia yakin ada fluiditas yang pasti sampai pada penafsiran artefak karena orang memiliki pemahaman yang berbeda dan rekonstrusi pemikiran yang dinamis seiring penemuan-penemuan arkeologi diberbagai situs di dunia.
Dia adalah seorang dosen di Universitas Leeds (1974-1977) sebelum pindah kembali ke Cambridge, di mana ia menjabat beberapa posisi akademik, ia termasuk Profesor Arkeologi dari 1996 hingga 1999. Dia menjadi anggota dari British Academy pada tahun 1996. Dia pindah ke Stanford pada tahun 1999.
Menurut Hodder, Expendiency situasional adalah pertentangan antara normatif dan perilaku adaptif. Dia mencatat bahwa kecenderungan untuk stabilitas dalam ketegangan konstan cenderung menyebabkan perubahan budaya. Selain Hodder, tokoh-tokoh lainnya seperti Franz Boas, A.R. Radcliff-Brown, dan Bronislaw Malinowski juga percaya bahwa pernyataan Hodder mengenai adaptasi yang menyebabkan perubahan budaya masuk akal daripada pernyataan yang mengatakan bahwa kebudayaan sebagai sistem tidak pernah berubah.

Oleh: Muhammad Ikram

Hiram Bingham III

   Lahir 19 november 1875 di Honolulu. Ia adalah seorang penjelajah, sejarawan, dan politikus Amerika Serikat. Bingham pernah mengajar di Yale University dan pernah menjelajah Machu Picchu pada 1911. Bingham beragama Kristen Protestan. Bingham pernah menjabat sebagai Gubernur Connecticut dan senator Amerika Serikat.
  
   Bingham lahir di Honolulu, Hawaii, Hiram Bingham II (1831-1908) adalah misionaris Protestan awal untuk Kerajaan Hawaii, cucu dari Hiram Bingham I (1789-1869) juga salah satu misionaris. Dia masuk College O’ahu yang sekarang dikenal sebagai sekolah Punahou i Hawaii (1882-1892). Ia pergi ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan pendidikannya dengan memasuki Philips Academy di Andover, Massachusetts, dan lulus pada 1894. Ia memperoleh gelar B.A dari Universitas Yale tahun 1898, dan pada tahun 1905 ia memperoleh gelar Ph.D di Harvard Univesity. Sementara di Yale, Bingham menjadi anggota persaudaraan Acacia. Ia menjadi salah satu staff pengajar di Harvard sebagai dosen sejarah dan politik. Kemudian ia menjabat sebagai pembimbing Woodrow Wilson di Universitas Princeton. Pada tahun 1907 di Universitas Yale ia ditunjuk sebagai dosen dalam sejarah Amerika Serikat. Pada tanggal 6 juni 1956, Bingham meninggal di Washington DC dan di kebumikan di Pemakaman Nasional Arlington, Virginia.
   Bingham mencapai pangkat kapten dari Connecticut National Guard pada 1916. Pada tahun 1917, ia menjadi salah satu penerbang pada event yang diseleggarakan sekolah militer Amerika Serikat, Aeronautics didelapan universitas untuk memberikan tanah sekolah pelatihan untuk penerbang kadet. Ia menjabat pada bagian Aviation US Signal Corps, Air Service dan mencapai pangkat letnan kolonel. Di issoudun, Perancis, Bingham memerintah Aviation Instruktion Center, layanan udara terbesar dan mengajar ditempat itu. Ia menjadi relawan Air Service dalam mencari korban pasca perang kemerdekan dari angkatan darat Amerika Serikat. Selain itu usaha yang dilakukan oleh Bingham ialah dengan menerbitkan explore dalam layanan udara, karyanya ini diluncurkan pada tahun 1920 oleh Yale University Press.
   Selain sebagai aggota militer ialah juga adalah seorang arkeolog, namun bukanlah seorang arkeolog yang terlatih “ujar dirinya”. Ia pernah menemukan sesuatu yang dilupakan dari Kota Inca dari Machu Picchu. Pada tahun 1908 ia pernah menjabat sebagai delegasi Pan American kongres pertama di Santiago, Chili. Dalam perjalanan pulang Bingham yang melalui Peru, anggapan masyarakat meyakinkannya untuk mengunjungi Kota Pra-Kolumbia, Choquequirao.  Bingham senang dengan prospek kota Inca yang belum diselidiki, dan pada tahum 1911 ia kembali ke Pegunungan Andes dengan ekspedisi Peru Yale 1911.  Pada 24 juli, Melchor Artega menyebabkan Bingham pergi ke Machu Picchu, yang sebagian besar sudah dilupakan oleh semua orang kecuali sebagian kecil dari masyarakat yang tinggal langsung di lembah. Bingham kembali ke Peru pada 1912 dan 1915 dengan dukungan dari Yale dan National Geographic Society. Machu Picchu telah menjadi salah satu atraksi wisata utama di Amerika Selatan dan Bingham diakui sebagai orang yang situs ini menjadi diperhatikan dunia, walaupun banyak orang lain yang membawa situs ini ke mata publik. Sebagai penghargaan pengelola situs terhadap Bingham, salah satu jalan yang membawa bus wisata dari Sungai Urumbanba (nama jalan yang ada pada wilaya situs) disebut dengan jalan raya Hiram Bingham. Kemungkinan karakter Indiana Jones dikutip dari Bingham. Salah satu buku yang pernah ditulis oleh Bingham berjudul “Lost City from Inca” menjadi buku paling laris atas publikasinya pada 1948. 

Flinders Petrie

   Sir William Matthew Flinders Petrie (3 Juni 1853 – 28 Juli 1942), merupakan seorang egyptolog asal Inggris dan juga pelopor metodologi sistematis dalam arkeologi serta pelestarian artefak. Dia adalah egyptolog pertama di Inggris dan telah melakukan penggalian (ekskavasi) di berbagai situs arkeologi di Mesir. Beberapa temuannya yang paling terkenal antara lain Prasasti Merneptah dan sistem pertanggalan berdasarkan lapisan keramik.

Kehidupan Pribadi
Image   William Matthew Flinders Petrie lahir di Charlton, Kent, Inggris pada 3 Juni 1853, merupakan putra dari pasangan William Petrie dan Anne Flinders. Sejak kecil, Flinders tidak menjalani pendidikan formal seperti kebanyakan anak lainnya. Dia mempelajari semua hal dari ayahnya, mulai dari metode survei yang akurat hingga meyakinkan Flinders untuk menjadi seorang arkeolog. Dia mulai membicarakan tentang arkeologi sejak umur delapan tahun dan pada masa itu, ia sudah mempelajari tiga bahasa yaitu, Prancis, Latin, dan Yunani.
   Petrie menikah dengan Hilda Urlin pada 26 November 1896 dan dikaruniai dua orang anak yaitu, John Petrie dan Ann Petrie. Pada awalnya, mereka tinggal di Hampstead namun saat ia pensiun dari jabatan profesor pada tahun 1933, ia pindah dan menetap di Yerusalem.
   Pada tahun 1942, Petrie meninggal dunia dan menyumbangkan kepalanya kepada Royal College of Surgeons, London, dan tubuhnya dimakamkam di Kompleks Pemakaman Mt. Sion. Saat itu, tengah terjadi Perang Dunia II sehingga kepala Flinders tertahan di tengah jalan. Kepalanya disimpan dan tidak pernah dipublikasikan oleh pihak Royal College of Surgeons, London.

Karir dalam Arkeologi
   Pada masa remajanya, Petrie melakukan survei di monumen-monumen prasejarah di Inggris untuk memahami posisi geometrisnya (19 survei yang paling akurat adalah di Stonehenge). Pada awal tahun 1880, Petrie pergi ke Mesir untuk melakukan survei di Piramida Giza, menyelidiki bagaimana piramida ini dibangun. Hasil survei dan analisis tentang arsitektur Piramida Giza yang dipublikasikan adalah metodologi dan keakuratan survei, sangkalan terhadap teori-teori sebelumnya mengenai Piramida Giza, dan data-data terbaru mengenai Piramida Giza pada masa itu. Pada surveinya, ia sangat terkejut dengan kerusakan-kerusakan yang dialami oleh monumen-monumen piramida dan mumi. Dia menggambarkan Mesir seperti “rumah yang hancur” dan ia merasa harus menyelamatkan apa yang ada agar pengetahuan tentang piramida tidak hilang begitu saja.
   Pada akhir tahun 1880, Petrie kembali ke Inggris dan menulis sejumlah artikel terkait surveinya di Mesir. Ia juga bertemu dengan Amelia Edwards, seorang jurnalis yang tertarik dengan Mesir dan bersedia membiayai ekskavasi Petrie selanjutnya di Mesir.
   Pada bulan November 1884, Petrie memulai ekskavasinya di Mesir. Ia melakukan penggalian di situs baru di Tanis dengan bantuan 170 pekerja. Walaupun Petrie adalah seorang yang amatir, ia sangat dikagumi oleh ahli-ahli yang lebih senior karena menghapuskan sistem mandor-buruh pada penggaliannya sehingga pekerja bisa bekerja tanpa tekanan.
   Pada akhir penggalian di Tanis, ia memutuskan untuk keluar dari proyek dan pandanaan dan tetap tinggal di Mesir. Ia pergi ke situs pemakaman di Fayum dan menemukan makam yang utuh kemudian mengirimkan sebagian dari hasil dokumentasinya ke Egyptian Departemen of Antiquities. Namun pada akhirnya, Petrie marah akibat pengelolaan barang antik yang buruk dan menuntut agar barang-barang antiknya dikembalikan dan dipindahkan ke Museum Inggris.
   Pada tahun 1890, Petrie melakukan ekskavasi di Tell el-Hesi, Palestina. Disana, ia menemukan kompleks pemakaman di Wadi al-Rababah, Yerusalem, dari zaman besi dan periode awal Kekaisaran Romawi. Pada tahun 1891, ia bekerja di Kuil Aten di Tell el-Amarna dan menemukan struktur trotoar taman seluas 300m2 dan beberapa relief.
   Pada awal 1896, Petrie dan timnya melakukan ekskavasi di sebuah kuil di Luxor, kompleks pemakaman Amenhotep III. Setelah penggaliannya, ia menemukan dua kamar mayat. Petrie terus menggali hingga akhirnya ia menemukan sebuah prasasti yang memuat tentang pembuatan kuil oleh Merenptah, putra dari Ramses II. Selain itu, prasasti ini menggambarkan bagaimana Amenophis III dalam pertempuran antara Nubia dan Siria dan juga prestasi Amenhopis III atas pembangunan kuil tersebut. Proses penerjemahan prasasti ini dibantu oleh seorang egyptolog muda asal Jerman bernama Wilheim Spiegelberg.
   Pada tahun 1923, Petrie dianugerahi gelar bangsawan atas jasanya dalam kegiatan arkeologi dan egyptologi oleh Inggris. Petrie kemudian berfokus pada situs-situs di Palestina pada tahun 1926. Dia mulai melakukan ekskavasi diberbagai situs di sebelah barat daya Palestina, termasuk Tell el-Jemmeh dan Tell el-Ajjul.
   Perekaman dan studi artefak memakai standar baru dalam arkeologi. Petrie menghubungkan gaya pada tembikar dengan periodenya, ia juga orang pertama yang menggunakan seration pada Mesir Kuno, sebuah metode untuk mengetahui kronologi sebuah situs. Flinders Petrie adalah sorang mentor dan pelatih bagi para egyptolog, salah satunya adalah Howard Carter.
   Petrie menjadi sosok yang terkenal atas pemikirannya yang pro-eugenika dan opini yang obyektif mengenai topik-topik sosial yang ada seperti perdebatannya dengan egyptolog Museum British, E.A. Wallis Budge. Budge beranggapan bahwa agama di Mesir pada dasarnya identik dengan agama yang ada di timur laut dan tengah Afrika. Tetapi, Petrie menganggap bahwa kebudayaan Mesir Kuno berasal dari Kaukasia yang pada masanya menaklukan Mesir dan memperkenalkan sistem pemerintahan kerajaan/ Firaun.
   Petrie adalah seorang pro-eugenika yaitu percaya bahwa tidak ada yang namanya inovasi budaya atau sosial masyarakat, melainkan perubahan sosial yang ada merupakan hasil dari perubahan biologis, seperti migrasi atau penaklukan oleh bangsa asing yang menyebabkan keberagaman ras.
   Flinders Petrie juga seorang pemikir anti demokrasi Inggris dan seorang mukmin yang berdedikasi dalam superioritas Bangsa Utara atas Bangsa Latinate dan Selatan. Ia mengatakan bahwa pendapat Budge tentang orang Mesir Kuno adalah Bangsa Afrika sangat tidak ilmiah. Karya-karyanya yang pernah dipublikasikan antara lain: Tel el-Hesy. London: Palestine Exploration Fund; “The Tomb-Cutter’s Cubits at Jerusalem,” Palestine Exploration Fund QuQuarterly, 1892 Vol. 24: 24-35.

Referensi
en.wikipedia.org. akses di Makassar, 7 September 2013; pukul 00.37 WITA
Hirst, Kris. 2013. Sir William Flinders Petrie (1853-1942). archaeology.about.com. (akses di Makassar, 7 September 2013; pukul 00.44 WITA)

Kamis, 08 Januari 2015

MAHASISWA: REFLEKSI AWAL TAHUN 2015


Kembali dalam guratan tinta elektronik, tulisan tak bertuan menyampaikan maksudnya lewat ‘Mahasiswa: Refleksi Awal Tahun 2015’. Mari kita berhenti sejenak dengan rutinitas kita (kecuali bernafas) untuk membayangkan atau tepatnya merenungkan apa yang telah kita lakukan setelah euforia tahun baru masehi ini. Jika ada orang yang berkata, “mari kita refleksi apa yang kita lakukan pada tahun lalu”, itu hal yang sangat wajar.  Namun sungguh tidak biasa jika refleksi dilakukan di awal tahun, terlebih lagi jika itu tak lebih dari 10 hari sejak tahun baru.
Sekarang yang jadi pertanyaan, apa kita sudah melakukan refleksi, entah untuk hari kemarin ataupun tahun lalu? Adakah dari kita yang berpikir bahwa hari-hari di tahun ini tak berbeda dari hari-hari di tahun sebelumnya? Ataukah kita tak memikirkannya sama sekali? Yah, kita boleh jujur pada diri masing-masing.
Refleksi adalah salah satu bagian dari tindakan merenung yang fokus pada sejarah diri sendiri, orang lain, maupun suatu kelompok masa tentang apa yang sudah dilakukan, baik dan buruknya. Tak perlu terburu-buru dan tak usah jauh-jauh, mari kita mulai dari diri sendiri. Mulailah bertanya pada diri sendiri tentang sejarah anda sendiri. Namun, sebelum kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, saya ingatkan bahwa ini refleksi tahun 2015, bukan tahun 2014. Bukankah 2014 itu merupakan sejarah? Tentu saja, namun jika anda memperhatikan paragraf sebelumnya, anda tidak akan kebingungan menyusun pertanyaan-pertanyaan kritis untuk diri anda.

Mahasiswa, dari mata ke mata
Saya harap anda telah mengisi lembar jawaban untuk diri anda dan sebelum lebih jauh lagi, saya pertegas bahwa saya adalah seorang mahasiswa dan tulisan refleksi bersama ini berkaitan dengan dunia kemahasiswaan. Jika membicarakan mahasiswa, pasti ada sedikit terlintas dibenak orang yang membicarakan mahasiswa tersebut (mahasiswa dan non-mahasiswa sama saja), soal demonstrasi, aksi bakar ban, bentrokan, pengerusakan, bahkan anarkisme radikal. Saya sangat menyayangkan hal tersebut. Namun apa daya, belum ada hasil yang kita tunjukkan pada mereka (khususnya masyarakat yang terperangkap janji-janji penguasa).
Akhir-akhir ini, saya sedikit membaca tulisan-tulisan mengenai mahasiswa serta gerakan pembebasan yang diusung oleh mereka. Melihat sisi lain dari mahasiswa yang umumnya dibicarakan, sebuah tulisan berjudul ‘Surat Terbuka untuk Mahasiswa Makassar’ oleh Asri Abdullah (mantan ketua UKPM-UH) cukup mencolek benak sebagian orang, termasuk saya. Penghargaan bagi mereka yang tak pernah lelah meneriakkan keadilan di atas aspal panas, mungkin begitulah kesimpulannya. Namun, kebanggaan belum sepantasnya kita kumandangkan, sebab tirani masih merajalela. Terus berbuat, itulah yang kita harus lakukan.
Perjalanan mahasiswa dan gerakannya tentu saja tak semudah copy-paste dari Google atau Wikipedia. Peristiwa-peristiwa berujung batu dan darah seringkali tak terhindarkan. Tak hanya para aparat, masyarakat yang punya kepentingan pun berpihak pada penguasa, mengacungkan tinjunya kepada mahasiswa. Ibarat ‘Jalanan dan Sang Koboi’ menurut salah satu anggota LAW Unhas, Aman Wijaya. Tak hanya secara fisik, namun tekanan mental berupa ancaman DO dan skorsing selalu membayang-bayangi setiap perjalanan gerakan mahasiswa. Barbagai macam tekanan tersebut ‘melemahkan’ gerakan mahasiswa dan menciutkan nyali sebagian besar mahasiswa dari tahun ke tahun. Tidak hanya berasal dari luar, faktor penghambat gerakan mahasiswa berasal dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa semakin nyaman dengan fasilitas kampus, seperti Wi-Fi dan ruangan serbaguna yang sering kita sebut sekretariat himpunan. Ruangan tersebut layaknya sebuah cafe dengan fasilitas koneksi internet, tentu saja lengkap dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Bukannya ‘berselancar’ mencari sesuatu yang bermanfaat, justru menggunakan fasilitas itu untuk kenikmatan diri sendiri. Ketika ada isu-isu mengenai gerakan mahasiswa, sebagian mahasiswa lebih senang untuk duduk dengan nikmat di depan laptopnya. Yah, kita tidak boleh merampas kebebasan mereka. Toh, mereka adalah mahasiswa yang dapat memilih apa yang baik untuk diri mereka.

Angkatan ‘98
Kesaktian mahasiswa yang (masih) terngiang dalam kisah-kisah heroik angkatan ’98, selalu saja didendangkan oleh para aktivis masa kini. Bukannya ingin melupakan sejarah, tapi ada yang lebih dari pada itu. Menurut saya, redupnya ‘kesaktian’ mahasiswa tersebut karena ada suatu pencapaian yang luar biasa sehingga kepuasan mahasiswa atas pendudukan rezim Orde Baru berlangsung sangat lama, akibatnya mahasiswa bingung ‘mencari lawan’ dan gerakannya mulai terpecah karena pemerintah bisa membaca gerakan mahasiswa lebih awal, membuat banyak permasalahan, mulai dari sesuatu yang abstrak, seperti ideologi dan RUU sampai sesuatu yang bersifat teknis, seperti kebijakan pemerintah menaikkan BBM, penggusuran pemukiman kumuh, dan masih banyak lagi. Masalah bagi mahasiswa tersebut merupakan keuntungan bagi penguasa. Tapi anehnya, pemerintah sekarang sebagian besar berasal dari angkatan ’98 yang kita banggakan itu. Apakah permasalahan gerakan mahasiswa adalah sebuah ujian yang diberikan oleh mereka atas pertanyaan mengenai gerakan mahasiswa mau dibawa ke mana?
Teman-teman bisa membaca tulisan dari indoprogress.com berjudul ‘Meletakan Kembali Gerakan Mahasiswa ke Jalur Strategis’ oleh Hendardi. Dalam tulisan tersebut, dijelaskan bagaimana perubahan arah gerakan mahasiswa yang semula gerakan sosial menjadi gerakan politik bersama masyarakat. Pasca jatuhnya rezim Orde Baru,  semakin terlenalah mahasiswa dengan kebebasan bertindak, termasuk begadang sampai pagi dan tidur sampai sore. Selain itu, kebersamaan mahasiswa terpecah oleh oknum-oknum yang membawa bendera masing-masing, masuk ke kampus seperti angin, dan menimbulkan perpecahan dalam gerakan mahasiswa. Mahasiswa tidak dapat menentukan arah gerakan yang dapat menyatukan mereka karena musuhnya sangat beragam, neolibealisme-lah, kapitalisme-lah, pemerintah-lah, mafia tanah-lah, apa-lah, tergantung pada bendera yang mereka bawa.
Bukan melupakan sejarah, tetapi kita mesti memahami bahwa konteks gerakan mahasiswa sekarang berbeda dengan mereka, angkatan’98. Bukankah hal yang wajar jika pemerintah jarang menjawab aspirasi mahasiswa karena metode gerakannya dari tahun batu hingga sekarang tetap sama? Orasi - bakar ban - lempar batu kalau sempat - bentrok adalah siklus alami dari sebuah demonstrasi. Walaupun tidak semuanya seperti itu, namun telinga masyarakat tahu apa yang mereka dengar. Pers yang awalnya merupakan media gerakan pembebasan berubah menjadi hedonis dan penyambung lidah pemerintah yang semakin memperburuk citra mahasiswa di masyarakat. Namun itulah yang mesti kita terima, hal tersebut sama saja dengan teror Orde Baru pada masa angkatan ’98, hanya saja yang ini adalah New Form.

Refleksi: Think, Think, Think...
Mahasiswa terbaik adalah mereka yang mampu berpikir kritis dan dapat menjadi lulusan yang tidak hanya mapan IQ-nya, namun EQ-nya juga (itu menurut saya loh!). Semua itu tertulis jelas dalam tridharma perguruan tinggi, namun kebanyakan dari kita sedikit salah kaprah dan setengah-setengah menjalankannya. Tahun 2015 ini merupakan tahun yang sekiranya dapat menggeser sedikit pemikiran mahasiswa karena saya rasa bukan hanya saya saja yang merasakan kemerosotan gerakan mahasiswa, mungkin sebagian dari kalian juga cukup merasakannya. Kemerosotan ini menimbulkan polemik saling salah-menyalahkan di dalam tubuh lembaga kemahasiswaan. Saya rasa, cukuplah kita membuat masalah baru yang sebenarnya tidak perlu menjadi masalah, cukup refleksi diri masing-masinglah. Sudah cukup dengan 2014, pertanyaannya adakah dari kita yang telah memikirkan gebrakan untuk tahun ini?
Jujur, saya hanya dapat meluangkan waktu untuk menulis di sela-sela liburan yang cukup lama ini. Saya merasa masih perlu banyak belajar untuk membangun sebuah konsep tentang mahasiswa untuk diri saya sendiri. Tahun 2015 saya awali dengan secangkir softdrink dan imajinasi-imajinasi liar yang entah akan terwujudkan atau tidak. Untuk dunia kemahasiswaan, saya tahu diri bahwa saya belum bisa membaktikan diri dengan baik dan menjalankan tridharma perguruan tinggi sebagaimana mestinya. Saya juga sudah memikirkan sarjana, namun sarjana yang tugas dan tanggung-jawabnya dalam artian menurut Soe Hok Gie:

Tugas Seorang sarjana adalah berfikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa lepas dari arus masyarakat yang kacau, tapi mereka tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya, yakni bertindak jika keadaan mulai mendesak. Kaum intelelektual yang diam disaat keadaan mulai mendesak, telah melunturkan nilai kemanusiaaan.

Itulah sedikit tulisan refleksi yang bisa saya bagikan kepada teman-teman. Sebenarnya tulisan ini lebih tepat disebut sebuah ajakan untuk kita merefleksikan diri. Ada yang beranggapan bahwa refleksi tidak perlu di umbar, cukup dalam diri sendiri saja. Namun, saya hanya bermaksud membagikan sedikit isi pikiran saya. Itulah demokrasi, daripada curhat di wall facebook mending buat tulisan. So, bagaimana dengan anda? Apa yang sudah anda rencanakan?

Senin, 15 Desember 2014

HOMO ERECTUS

Manusia pertama kali muncul pada periode plestosen (sekitar 2,0 juta tahun yang lalu) dimulai dari jenis manusia purba hingga manusia modern. Manusia modern diteorikan berkembang dari manusia purba, yang berkembang dari Homo erectus. Manusia purba ini memiliki ukuran otak 1200 sampai 1400 cm3, yang melebihi rentang pada manusia modern. Anatomi manusia puba dibedakan dari manusia modern dari tengkoraknya yang tebal, tonjolan bubung alis dan tidak menonjolnya dagu. Garis pembatas yang membedakan manusia dengan Homo erectus adalah sangat kabur. Fosil terbaru dari manusia purba seperti Homo remains dari 195.000 tahun yang lalu dikenal sebagai manusia modern. Namun, manusia modern awal tersebut memiliki campuran ciri-ciri manusia purba, seperti bubung alis yang sedang, tapi tidak menonjol. Pada tulisan ini, akan lebih difokuskan pada jenis manusia purba Homo erectus.
Homo erectus dalam Bahasa Indonesia berarti ‘manusia yang berdiri tegak’ salah satu dari genus Homo yang telah punah. Antropolog sekaligus pakar anatomi Belanda, Eugene Dubois pertama kali menggambarkannya sebagai Pithecanthropus erectus berdasarkan fosil tempurung kepala dan tulang paha yang ditemukan di Kedungbrubus (Madiun) dan Trinil (Ngawi) pada tahun 1890, 1891, dan 1892. Sejak ditemukannya fosil tersebut, para ilmuwan percaya bahwa manusia modern berevolusi di Asia. Hal ini bertentangan dengan teori evolusi milik Charles Darwin dalam bukunya Descent of Man yang mengatakan bahwa manusia modern berasal dari Afrika. Hal ini diperkuat penemuan manusia Neanderthal di Jerman yang menyerupai kera maupun manusia. Namun, pada tahun 1950-an , beberapa fosil yang di temukan di Kenya, Afika Timur, ternyata menunjukkan bahwa hominins memang berasal dari benua Afrika. Sampai saat ini para ilmuwan mempercayai bahwa Homo erectus adalah keturunan dari makhluk mirip manusia era awal seperti Australopitherus dan keturunan spesies Homo awal seperti Homo habilis.
Homo erectus dipercaya berasal dari Afrika dan bermigrasi selama masa Pleistosen awal sekitar 2,0 juta tahun yang lalu dan terus menyebar ke seluruh ‘Dunia Lama’ hingga mencapai Asia Tenggara. Tulang-tulang yang diperkirakan berumur 1,8 dan 1,0 juta tahun telah ditemukan di Afrika (Danau Turkana dan Olduvai Gorge), Eropa (Georgia), Indonesia (Sangiran, Trinil, Sabungmacan, dan Ngandong: semuanya di tepi Bengawan Solo), dan Tiongkok (Shaanxi). Homo erectus menjadi hominid terpenting mengingat bahwa spesies inilah yang pertama kali meninggalkan benua Afrika.




Daftar Pustaka

Duli, Akin. 2014. “Manusia Purba”. Bahan ajar. Makassar: Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.
Widianto, Harry dan Truman Simanjuntak. 2009. Sangiran Menjawab Dunia. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.
Wikipedia Indonesia. 2014. “Homo erectus”. http://id.wikipedia.org/. [cited in Makassar, 8 Decembre 2014).

Senin, 20 Oktober 2014

VANDALISME MAKASSAR: WUJUD EKSPRESI DAN IDE MASYARAKAT SERTA KAITANNYA DENGAN CAGAR BUDAYA

Kota Makassar merupakan sebuah kota yang berkembang dilihat dari segi perekonomian, industri, dan pembangunan infrastruktur. Pembaharuan-pembaharuan gencar dilakukan oleh pemerintah kota, demi menambah kenyamanan dan kecantikan Kota Makassar. Selain pembangunan fisik kota, kesehatan dan pendidikan menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi pemerintah kota untuk menuju Makassar yang lebih maju. Program-program pendidikan dan kesehatan menjadi slogan-slogan para calon wakil rakyat Kota Makassar dalam usahanya mengambil hati masyarakat. Sebelum hari pemilihan wakil rakyat, poster-poster bertebaran dengan nada-nada pembangunan, membuat hati rakyat bimbang memilih siapa yang terbaik.
Makassar Sore Hari
Yah, paragraf di atas menggambarkan keadaan masyarakat dari sudut pandang orang-orang dari kalangan atas yang melihat Makassar secara overpositif dan optimis tanpa enggan melihat ke ‘bawah’. Jika dilihat secara sekilas, pemilihan wakil rakyat seolah-olah seperti arena judi dengan iming-iming pembangunan. Tentu saja, yang menjadi korban adalah masyarakat kelas bawah. Memang, kalimat di atas seolah-olah menggambarkan Makassar sebagai kota yang indah dengan pembangunan yang terjadi disemua sektor, namun jika dilihat secara mendalam, ternyata ada sesuatu yang janggal di balik semua pembangunan itu. Permasalahan-permasalahan sosial dalam masyarakat terus bertambah, penggusuran terjadi dimana-mana, kesehatan dan pendidikan menjadi mimpi belaka. Begitulah kira-kira keadaan Makassar menurut penulis dari sudut pandang sebagai masyarakat biasa.
Fakta-fakta yang penulis dapatkan di lapangan, beberapa wilayah pinggiran Makassar masuk dalam kategori daerah miskin[1] jika dilihat dari tingkat pendidikan dan penghasilan rata-rata/hari. Contohnya, masyarakat yang berada di sekitar Tanjung Bayang, Makassar, sehari-hari bekerja menawarkan jasa wahana pantai memiliki tingkat pendidikan hanya sampai sekolah menengah atas dan penghasilan rata-rata/hari yang didapat berkisar antara Rp50.000 sampai Rp70.000. Jika melihat jumlah anggota keluarga dalam satu rumah dan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari rumah tangga, nilai uang seperti itu memang cukup untuk sehari itu saja, tidak lebih. Itu salah satu penyebab tingkat pendidikan mereka sangat rendah.
Menurut Pearson Education[2], Indonesia meraih posisi terendah di dunia dalam hal pendidikan. Tentu saja, hal ini sangat memalukan bagi kita. Namun, kita juga harus mengambil sikap positif dari kritikan dunia tersebut melihat kondisi pejabat-pejabat yang setiap hari makin buncit dengan segala kemewahan, sedangkan rakyat semakin tenggelam dalam angan-angan dan janji-janji politik para wakil rakyat yang mereka tunjuk untuk mewakili aspirasi mereka. Masyarakat yang tingkat pendidikannya tergolong masih kurang, sebagian dari mereka mencoba melampiaskan kekesalan mereka lewat aksi-aksi yang membuat pemerintah geram. Semua itu mereka lakukan untuk menarik perhatian pemerintah, namun tampaknya pemerintah tidak bergeming sehingga kemudian hari aksi-aksi mereka semakin mengarah ke arah yang radikal.

Vandalisme[3]
Kegiatan Vandalisme
Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV, vandalisme atau vandal adalah perbuatan merusak dan menghancurkan karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam, dsb) atau perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas. Vandalisme biasanya dilakukan untuk tujuan yang bersifat mengabadikan momen, tapi dengan cara berbeda dan semua orang bisa tahu serta mengakui “karyanya”. Biasanya, coretan vandalisme berorientasi pada lingkup para vandalis (orang yang melakukan vandalisme), misalnya nama pribadi, nama/simbol suatu kelompok, atau kalimat-kalimat ekspresif si vandalis dan objek vandalisme, tentu saja adalah tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh banyak orang. Terkadang, vandalisme dianggap sebagai bentuk kreatifitas ataupun kenakalan remaja/anak muda. Ada pula yang menganggap vandalisme merupakan sebuah hobi atau kesenian anak muda yang tidak memiliki wadah untuk menyalurkan bakat mereka, tetapi ada pula vandalisme yang merupakan sebuah bentuk gerakan perlawanan mahasiswa terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Namun, tidak menutup kemungkinan, ada juga pihak-pihak yang sengaja membayar orang untuk melakukan suatu vandalisme dengan mengatasnamakan mahasiswa demi tujuan politik.
Vandalisme memiliki dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari sudut pandang vandalisme sebagai seni yaitu menghasilkan atau membentuk karakter-karakter seniman jalanan yang selama ini kurang diperhatikan. Boleh dikatakan bahwa vandalisme sebagai bentuk publikasi karya seni. Sedangkan dilihat dari sudut pandang vandalisme sebagai bentuk perlawanan, tentunya pemerintah akan mulai peka terhadap permasalahan-permasalahan sosial masyarakat. Sedangkan, dampak negatif dari vandalisme yaitu merusak bangunan-bangunan di sepanjang jalan, situs bersejarah atau cagar budaya suatu daerah. Pemerintah melarang kegiatan-kegiatan vandal dengan beberapa cara, baik secara kasar (menggerakkan aparatur kota) atau dengan cara halus seperti lomba-lomba kebersihan tingkat desa/kecamatan. Akan tetapi, aktivitas vandalis rupanya tak kunjung berhenti karena vandalisme di benak masyarakat merupakan salah satu solusi yang terbaik dan mungkin paling aman (karena pelakunya anonim/memakai alias) dalam menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah setelah usaha-usaha halus dilakukan. Seperti halnya di kampus, vandalisme mungkin  suatu cara yang aman dan mampu membuat pihak birokrasi kampus peka terhadap permasalahan-permasalahan internal kampus. Vandalisme  merupakan fenomena yang muncul karena beberapa faktor, diantaranya faktor pemerintahan. Jadi, untuk meminimalisir vandalisme, kita harus mencari akar permasalahan. Pemerintah harus sadar terhadap kinerjanya selama ini dan melihat vandalisme secara positif dan mengambil makna dari coretan-coretan yang tadinya seolah-olah hanya iseng belaka.

Cagar Budaya
Makassar memiliki sejarah yang cukup panjang berkenaan dengan kolonialisme di Indonesia. Banyak bangunan-bangunan kuno pada masa kolonial yang masih berdiri hingga sekarang dan menurut beberapa orang, bangunan-bangunan tersebut sangat megah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Makassar. Bisa dikatakan, bangunan-bangunan bersejarah tersebut menjadi faktor pertumbuhan perekonomian kota dan bisa menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat. Salah satu contoh, Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam yang menjadi salah satu ikon Kota Makassar. Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam berlokasi di Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang atau tepatnya di Jalan Ujung Pandang Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng Rotterdam sangat mudah dijangkau karena terletak di jalan yang dilalui kendaraan umum, berjarak 500 meter ke arah barat dari lapangan Karebosi. Selain nilai sejarah, letak Fort Rotterdam sangat strategis karena berada dekat dengan pantai. Masyarakat yang hendak tamasya ke pantai dapat langsung singgah ke Fort Rotterdam untuk sekedar melihat-lihat atau berkunjung ke Museum La Galigo yang terletak di dalam Fort Rotterdam.
Merujuk pada Undang-undang no. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 43, Fort Rotterdam merupakan cagar budaya peringkat provinsi karena dapat mewakili kekhasan suatu provinsi. Menurut sejarahnya, Benteng Rotterdam di bangun oleh Raja Gowa IX yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' Kallona pada tahun 1545. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat dan pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Namun, setelah Perjanjian Bongaya pada tahun  1667, benteng ini diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan gaya arsitekturnya pun dibuat seperti bangunan-bangunan Belanda. Hingga sekarang, sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar. Saat ini, beberapa unit bangunan di dalam Benteng Rotterdam digunakan sebagai Kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar, Museum La Galigo dan Kantor Dewan Kesenian Makassar.
Dalam undang-undang cagar budaya, baik UU no. 5 Tahun 1992 maupun UU no. 11 Tahun 2010, nilai penting sebuah cagar budaya merupakan otoritas dari pelestarian cagar budaya melalui penanganan fisik seperti, pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Nilai penting khususnya bangunan kuno atau lingkungan bersejarah juga dikemukakan oleh James Semple Kerr dalam Asmunandar (2008), yaitu nilai sosial, nilai komersil, dan nilai ilmiah. Nilai sosial, makna bangunan-bangunan bersejarah bagi masyarakat; nilai komersil, pemanfaatan bangunan bersejarah sebagai sumber perekonomian; dan nilai ilmiah, yang berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Nilai komersil dari Fort Rotterdam memang sangatlah tinggi, selain memiliki letak yang strategis, ruang yang luas membuat pengunjung merasa betah, sedangkan untuk nilai sosial dan nilai ilmiah Fort Rotterdam hanya berlaku sekitar 1% bagi masyarakat awam, sisanya bagi para budayawan dan para sejarawan (kalangan pelajar yang terkait).
Sikap pemerintah selama ini sudah cukup baik dalam melaksanakan undang-undang tersebut. Tidak hanya Fort Rotterdam, bangunan kolonial lainnya juga mendapat perlakuan yang sama. Tapi, untuk nilai komersil, mungkin Fort Rotterdam masih menduduki peringkat atas. Data tahun 2013 menunjukan adanya peningkatan jumlah pengunjung sebesar 50%, terlebih jika di Fort Rotterdam di adakan acara-acara atau kegiatan-kegiatan tahunan. Pada akhir bulan Juni, tepatnya 25 hingga 29 Juni 2013 di adakan kegiatan Makassar International Writers Festival yang menyedot perhatian masyarakat Makassar, khususnya para sastrawan lokal. Pasalnya, penulis-penulis kenamaan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri berdatangan di Fort Rotterdam.
Pariwisata semacam inipun menarik minat para pengusaha-pengusaha asing. Mereka membuka cabang-cabang usaha di sekitaran obyek-obyek wisata dan seperti yang kita lihat, Kota Makassar penuh dengan restoran-restoran cepat saji dan minimarket-minimarket yang jaraknya hanya sejengkal satu sama lainnya. Menurut penulis, hal ini sangat miris karena seharusnya yang memperoleh keuntungan dari pariwisata Makassar adalah warganya sendiri, bukannya pendatang. Warung-warung mereka tergusur (secara fisik maupun non-fisik) dengan kemegahan minimarket-minimarket. Terkadang, pedagang lokal menaikkan harga jualan mereka karena pemasukan mereka semakin hari semakin berkurang ditambah lagi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini membuat masyarakat sibuk mengurusi perutnya dan semakin kecewa dengan sikap-sikap pemerintah yang hanya sibuk mengurusi ‘tamu’nya dan tidak memperhatikan ‘diri mereka’ sendiri.

Vandalisme dan Cagar Budaya
Nah, sekarang yang jadi pertanyaan, apa hubungannya vandalisme dengan cagar budaya jika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat, baik mereka yang bermukim di sekitar bangunan cagar budaya maupun para pendatang? Jika dilihat secara sekilas, memang tidak terjadi apa-apa. Namun, jika dilihat lebih mendalam, vandalisme mulai menjadi media alternatif untuk melampiaskan kekesalan mereka. Selain ulah remaja yang nakal (menuliskan namanya ke dinding-dinding bangunan), adapun tindakan-tindakan vandal yang dilakukan masyarakat sekitar, seperti mencungkil atau menjarah beberapa benda-benda cagar budaya. Selain faktor ekonomi, salah satu faktor yang memengaruhinya adalah pendidikan. Publikasi atau penyaluran informasi mengenai cagar budaya tidak sampai ke masyarakat, sehingga pengetahuan masyarakat hanya berdasarkan pengalaman saja. Sebagian dari mereka melihat bangunan-bangunan bersejarah tersebut sebagai bangunan-bangunan para penjajah tanah mereka dulu. Nilai-nilai penting menurut Kerr tadi menjadi tidak ada apa-apanya jika melihat kondisi kekinian masyarakat yang sekarang. Walaupun tidak semuanya masyarakat bersikap seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, mereka ditekan oleh permasalahan ekonomi yang semakin hari semakin bertambah.
Dampak vandalisme bagi masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah tidak begitu menjadi persoalan, karena bagi mereka, hal tersebut tidak berpengaruh besar bagi kehidupan mereka. Penulis sempat mewawancarai salah seorang pedagang di Tanjung Bayang, beliau mengatakan, selama hal itu tidak berpengaruh terhadap penghasilannya sebagai pedagang, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Begitupun pedagang-pedagang di sekitaran Fort Rotterdam, banyak diantara mereka bahkan tidak pernah masuk ke Fort Rotterdam dan keinginan mereka untuk melestarikan Fort Rotterdam hanya dilandaskan pada perekonomian saja, coret-mencoret, tidak ada pengaruh sama sekali, yang penting ramai.
Vandalisme di Fort Rotterdam
Sikap masyarakat dalam pelestarian cagar budaya di Makassar hampir sama dengan kondisi di situs-situs prasejarah di Kabupaten Maros dan Pangkep. Masyarakat yang tidak terlalu mengetahui persoalan cagar budaya, menganggap situs-situs tersebut biasa-biasa saja! Artinya, sebagian dari mereka tidak peduli lagi dengan tempat-tempat seperti itu, bahkan situs-situs prasejarah hanya menjadi faktor sekunder dalam menunjang perekonomian mereka. Hal ini sangat mengancam pelestarian peninggalan nenek moyang mereka hanya karena persoalan ketidaktahuan dan perekonomian yang harus mereka utamakan. Jangan sampai, masyarakat yang berprofesi sebagai juru pelihara situs menganggap profesi mereka sebagai pekerjaan paruh waktu. Di satu sisi, juru pelihara harus menjalankan kewajibannya menjaga situs, di satu sisi, mereka bekerja sebagai petani untuk menghidupi keluarganya. Hal tersebut membuat iri masyarakat yang bekerja sebagai petani biasa. Mereka cemburu karena orang bekerja sebagai juru pelihara mendapat penghasilan tambahan selain bertani. Hal ini dapat menimbulkan konflik internal dalam masyarakat.
Sebagai mahasiswa arkeologi, bagaimanakah seharusnya kita bersikap? Kita memperoleh pelajaran-pelajaran dalam mata kuliah yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya. Namun, ketika diperhadapkan dengan permasalahan sosial seperti di atas, mungkin kita akan mengangkat tangan dan menyerahkan semuanya pada pemerintah. Terkadang kita hanya menjadi pengamat saja dan bisa saja melanjutkan kebobrokan pemerintah saat ini. Ingatkah kalian dengan salah satu Tridharma Perguruan Tinggi, Pengabdian pada Masyarakat? Mungkin, diantara kalian hanya menganggap bahwa pengabdian pada masyarakat itu hanya pada saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) saja. Melihat UU cagar budaya, kita mempunyai kewajiban untuk melestarikan cagar budaya tersebut untuk nilai pentingnya, terkhusus nilai penting ilmiah. Tapi, kita juga masyarakat kelas menengah ke bawah yang masih memikirkan persoalan perut dan ingin cepat-cepat selesai di bangku kuliah agar cepat mendapat pekerjaan. Kita sebagai mahasiswa dituntut kreatif dalam menciptakan usaha pelestarian yang sifatnya partisipatif. Mungkin pendekatan-pendekatan yang selama ini dilakukan oleh intansi-instansi terkait cagar budaya masih kurang tepat untuk diterapkan dalam masyarakat dalam konteks kekinian. Kita yang selama ini hanya duduk, harusnya bisa menciptakan gebrakan baru untuk memajukan Kota Makassar dengan cara kita sendiri (dalam hal positif). Setidaknya, kita bisa merubah paradigma masyarakat tentang mahasiswa yang radikal dan anarkis menjadi seorang pengabdi dalam masyarakat.
Vandalisme bisa bermakna positif, bisa bermakna negatif, tergantung bagaimana kita memaknainya. Jika merujuk dari pengertiannya, tentu vandalisme merupakan kegiatan yang merusak, namun dibalik vandalisme itulah yang seharusnya dicari tahu. Mungkin, beberapa diantara kita hanya melihat vandalisme dari satu sisi saja sehingga kesimpulan yang kita ambil lebih banyak sisi negatifnya. Tapi, opini masyarakat tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, hanya perlu kita luruskan dengan cara-cara yang kreatif dan cerdik hingga kita tidak melakukan kesalahan yang sama dengan generasi sebelum kita.


Referensi:.
Asmunandar. 2008. Membangun Identitas Masyarakat Melalui Kota Kuna MakassarTesis. Yogyakarta: Universitas Gadja Mada.
BBCNews. 2012. Peringkat Sistem Pendidikan Indonesia Terendah di Dunia. BBC Indonesia
Chandra, Peniel. 2013. Fort Rotterdam: Bertahan dari Guratan Para Vandalis. Makassar: Artikel pribadi.
Chandra, Peniel. 2013. Fort Rotterdam: Wisata Sejarah Makassar yang Hampir Kehilangan Nilai Sejarah. Makassar: Artikel pribadi.
Mulyadi, Aldi. 1999. Pengelolaan Situs Fort Rotterdam (Kajian Cultural Resource Management)Skripsi. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Oktaviana, Dina N., et al. 2014. Pelestarian Situs Prasejarah Leang Kassi dan Leang Alle’ Pusae yang Berbasis Masyarakat. Pertemuan Ilmiah Arkeologi Mahasiswa se-Indonesia (PIAMI) XV. Makassar.
Pusat Bahasa. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi IV). Jakarta : PT Gramedia Pustaka.
Republik Indonesia. 1992. Undang-undang No. 5 Tahun 1992 Tentang Cagar Budaya. Lembaran Negara RI Tahun 1992. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2010. Undang-undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Lembaran Negara RI Tahun 2010. Sekretariat Negara. Jakarta.




[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi 4, miskin yang dimaksud adalah keadaan miskin absolut dimana masyarakat hanya dapat memenuhi kebutuhan primer paling banyak untuk sehari atau seminggu saja.
[2] Sebuah lembaga survei pendidikan di Amerika Serikat.
[3] Vandalisme yang dimaksud seperti graffiti, poster-poster liar, maupun coretan-coretan di dinding-dinding bangunan umum.